21 November 2007
GAPBESI MINTA PRODUK BAJA CHINA AGAR DIKENAI BEA MASUK ANTI DUMPING

Jakarta: Gabungan Pengusaha Besi Indonesia (Gapbesi) minta pemerintah agar mengenai bea masuk anti dumping atas produk baja impor dari China. Tindakan itu ditempuh, karena murahnya harga baja asal China tersebut telah membuat produk sejenis di dalam negeri menjadi tidak kompetitif. Imam Purwanto, Direktur Bisnis dan Operasi PT Krakatau Engineering mengatakan hal itu kepada Business News di Jakarta, Selasa (20/11).

Rendahnya harga baja impor yang 50% lebih murah dari harga produk dalam negeri tersebut disebabkan oleh utilisasi produk tersebut di China sudah penuh. Sementara, pemanfaatan produk baja di Indonesia masih rendah, sehingga biaya produksinya tinggi. Jadi, daripada berlebih di dalam negeri (China), mereka melepas ke luar negeri, sehingga harganya bisa turun dan masuk ke pasar Indonesia dengan harga murah.

Sebenarnya, meskipun produk dalam negeri kalah bersaing dari segi harga, tetapi dari segi mutu sebenarnya baja Indonesia masih lebih baik daripada produk China. Namun, masalahnya konsumen di Indonesia masih price minded. Mereka masih melihat dari harga, tidak melihat kualitas. "Saya tidak tahu apakah kualitas akan jadi perhatian. Saya yakin kalau kualitas sudah menjadi perhatian, kita bisa bersaing."

Rendahnya utilisasi baja dalam negeri bisa terlihat dari pertumbuhan konsumsi baja nasional per kapita dari 1999 s/d tahun 2005. Konsumsi baja per kapita dari tahun 1999 hingga tahun 2005 berturut-turut sbb: 16 kg/kapita, 23,5 kg/kapita, 24 kg/kapita, 22,9 kg/kapita, 21,9 kg/kapita, 26,2 kg/kapita, dan 32,9 kg/kapita.

Sementara, dari seluruh pertumbuhan konsumsi baja di ASEAN per kapita pada tahun 2006, Indonesia tercatat yang paling rendah. Sebagai perbandingan, Malaysia sebesar 262 kg/tahun/kapita, Philipina 31 kg/tahun/kapita, Singapura 512 k/tahun/kapita. Thailand 199 kg/ tahun/kapita. Vietnam 72 kg/tahun/kapita, sedangkan Indonesia hanya 29 kg/tahun/kapita.

Rendahnya konsumsi baja di dalam negeri itu terkait dengan rendahnya daya saing dalam negeri, sebagai akibat tertinggalnya teknologi, rendahnya standar, dan tingginya biaya produksi. Hal itu masih ditambah dengan sederet permasalahan lain, seperti masuknya impor produk baja murah non standar dan impor illegal, masih tingginya ketergantungan terhadap bahan baku dan komponen impor, belum efisiennya penggunaan energi pada industri baja, masih terbatasnya penerapan dan sanksi terhadap pelanggar SNI, terbatasnya kemampuan SDM yang sesuai dengan perkembangan teknologi, kurang tersedianya infrastruktur di luar P. Jawa, dan belum berpihaknya kebijakan fiskal dan moneter pada pertumbuhan pasar dalam negeri.

Namun, Gapbesi optimistis konsumsi baja nasional akan meningkat sejalan dengan program pemerintah yang tengah membangun berbagai infrastruktur di berbagai daerah. Konsumsi baja nasional per orang per tahun pada tahun 2009 diproyeksikan sebesar 44 kg. Angka ini meningkat menjadi 65,7 kg pada tahun 2015.

Dalam kaitan itu, sebagai strategi pengembangan industri baja nasional, Gapbesi melakukan berbagai upaya, a.l. memanfaatkan pasar dalam negeri, meningkatkan efisiensi, memanfaatkan sumber daya lokal (bijih besi, batubara, gas alam) dalam pengembangan industri besi baja hulu, mengembangkan industri baja kasar (crude steel), dan mengembangkan kapasitas industri ironmaking (basis gas).

Sumber : Business News, Page : 14 

 Dilihat : 3566 kali