21 November 2007
China Ingin Ikut Mendanai Industri Senjata Indonesia

JAKARTA. Hubungan Indonesia dengan China kian mesra saja. Setelah meneken perjanjian kerjasama pertahanan (cooperative activity in the fields of defense) di Beying dua pekan silam, Pemerintah China kabarnya mulai serius menjajaki kemungkinan pengembangan kerjasama sektor industri pertahanan di Indonesia.

"Mereka menawarkan kepada Indonesia untuk memberi dana pembangunan galangan kapal dan menghidupkan kembali PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia dan PT PAL," jelas Menteri Pertahanan Juwono Sudharsono, Selasa (20/11).

Nilai lamaran China atas dua BUMN tersebut memang belum spesifik. Namun, negeri Tirai Bambu tersebut mengaku sudah kebelet untuk memulai kerjasama ini. Pemerintah sendiri masih akan menindaklanjuti lamaran China tersebut dalam pembicaraan lintas departemen yakni Departemen Pertahanan, Departemen Keuangan, Departemen Hukum dan HAM dan Kementerian Negara BUMN. "Sekarang tinggal kita siapkan teman-teman dari tiga BUMN tersebut," papar Menhan, kemarin.

Pemerintah China lanjut Juwono, mengaku sangat tertarik untuk terlibat dalam pengembangan industri pertahanan di Indonesia terutama soal persenjataan. Pasalnya, "Mereka ingin membangun kemampuan pertahanan yang layak di Indonesia supaya jalur minyak ke China terjamin," ungkap Menhan. Dari sisi inilah Menhan melihat, kepentingan ekonomi dua negera berpenduduk padat ini bisa bertemu dan bisa berlanjut kepada kerjasama yang saling menguntungkan.

Kerjasama pertahanan Indonesia-China memang fokus pada dua sektor yakni kerjasama di bidang joint produksi industri pertahanan dan program tukar menukar perwira. "Jadi ini serupa dengan kerjasama Indonesia-Filipina atau Indonesia-India. Modelnya bukan pakta pertahanan ataupun DCA," tegas Menhan.

Sekadar informasi, penandatanganan kerjasama pertahanan Indonesia-China sudah diteken pada 7 November silam di Beijing, China. Penandatanganan kerjasama sektor pertahanan ini merupakan realisasi dari Kemitraan Strategis yang telah ditandatangani oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden China Hu Jintao pada April 2005 silam.

Tawaran China ini boleh makin memuluskan niat pemerintah untuk memberdayakan BUMN Industri Strategis sebagai pabrik senjata. Pekan lalu, pemerintah menetapkan lima BUMN; PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT Krakatau Steel, dan PT LEN Industri, sebagai calon produsen senjata untuk memenuhi kebutuhi TNI. (lihat KONTAN 16 November 2007).

Kerjasama bisnis Menanggapi ini, Sekretaris Menteri Negara BUMN Said Didu mengaku belum tahu secara persis detail pinangan China. "Kan harus beres pada tingkat antarpemerintah atau government to government (G to G) lebih dahulu," jelas Said.

Kalau sudah beres proses G to G-nya, kemungkinan proyek kerjasama akan dilanjutkan dalam bentuk bussiness to bussines (B to B) atau government to bussiness (G to B) antara tiga BUMN senjata itu dengan pemerintah China ataupun BUMN-nya. "Saya rasa wajar China ingin bekerjasama dengan ketiga BUMN ini, karena Pindad misalnya, bisa bikin senjata yang lebih bagus dari M-16," ujarnya.

Oleh : Ruisa Khoiriyah

Sumber : Harian Kontan, Page : 2

 Dilihat : 8281 kali