03 Dessember 2014
Pabrik Baja Mendamba Pasar Domestik

Pabrik Baja Mendamba Pasar Domestik.jpgSejumlah produk baja yang telah dicetak menjadi baja keperluan otomotif dipajang tepat di depan pintu masuk Gedung Teknologi PT Krakatau Steel, di Cilegon, Banten. Tampilan itu seolah ingin memberikan pesan kepada tamu pabrik bahwa industri baja dalam negeri mampu menyuplai kebutuhan pabrikan otomotif di dalam negeri.

Di depan Menteri Perindustrian Saleh Husin, yang mengunjungi pabrik baja tersebut pada November 2014, pihak Krakatau Steel memaparkan kemampuan mereka. Disebutkan juga, saat ini pasokan baja industri dalam negeri untuk sektor otomotif masih minim.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (persero) Tbk Irvan Kamal Hakim menuturkan, serapan produk baja dalam negeri hanya 7-13 persen dari sekitar 1 juta ton kebutuhan baja otomotif dalam negeri setiap tahun. Nilai tambah sektor otomotif akan kian tinggi jika baja yang digunakan juga buatan dalam negeri.

Oleh karena itu, muncul harapan agar pemerintah mendukung kebijakan yang mampu meningkatkan serapan baja otomotif produksi industri dalam negeri. Harapan tersebut tidak berlebihan menimbang fakta terus tumbuhnya industri otomotif di negeri ini.

Produksi mobil di Indonesia, sejak tahun 2012, menembus satu juta unit setiap tahun. Produksi mobil di Indonesia pada tahun 2014 diperkirakan 1,2 juta unit, sama dengan pencapaian pada tahun 2013.

Kabinet Kerja berkomitmen mendukung industri galangan kapal di Indonesia. Hal itu memberikan angin segar bagi industri baja dalam negeri untuk menyuplai baja ke galangan. Betapa luar biasanya jika kapal-kapal yang nantinya diproduksi galangan kapal dalam negeri tersebut memakai baja produksi industri baja Indonesia.

Namun, ada yang harus diperhatikan. Tuntutan industri otomotif dan galangan kapal terhadap mutu, harga, dan layanan pengiriman mutlak dipenuhi industri baja Tanah Air. Di sisi lain, sinyalemen pelaku industri otomotif kadang kala menggeser standar baja lebih tinggi sehingga tak mampu dipenuhi industri baja dalam negeri juga patut dicermati. Sikap yang tepat diperIukan sebagai solusi.

Belum lagi di sektor galangan kapal. Selama ini perbedaan perlakuan antara Batam dan luar Batam mengakibatkan industri baja dalam negeri tak kunjung optimal menyuplai baja untuk galangan kapal di Batam. Kondisi ini perlu diperhatikan. Apalagi, belakangan pemerintah memberikan insentif fiskal bagi industri galangan kapal nasional.

Kementerian Perindustrian mencatat usulan peninjauan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2012 yang berkaitan dengan pembebasan bea masuk anti dumping di kawasan perdagangan bebas. Upaya lain tetap bisa ditempuh seperti mengatur tata niaga yang menimbang pasokan dan kebutuhan baja di dalam negeri. Harapannya, industri baja dalam negeri dapat memanfaatkan potensi pasar industri galangan kapal.

Kebijakan yang tepat akan memberikan nilai tambah bagi negeri ini. Potensi pasar dalam negeri harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.

Apalagi, secara umum, industri baja global menghadapi tantangan. Tantangan itu terutama tekanan di sisi harga baja. Sebagai gambaran, dalam tiga tahun terakhir, harga baja internasional terpuruk antara lain karena kelebihan suplai baja Tiongkok seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi negeri itu. Harga baja internasional yang pernah menyentuh 700-800 dollar AS per ton, saat ini hanya 500-600 dollar AS per ton.

Di tengah kondisi tersebut, tidak mengherankan jika industri baja di Tanah Air ingin optimal menggarap pasar di dalam negeri. Industri baja yang kerap disebut sebagai mother of industry –sang induk industri- yang menopang banyak industri di negeri ini, kini mendambakan pasar domestik. Semoga segera terwujud.

Sumber: Kompas, Sabtu, 29 November 2014

 Dilihat : 9242 kali