03 November 2014
Krakatau Steel Tekan Biaya Produksi

Investor Daily, 3 November 2014
Hal: 14

 
PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menargetkan pembangunan fasilitas peleburan baja bertanur tinggi (blast furnace) selesai pada pertengahan 2015. Perseroan juga akan merampungkan pembangunan pembangkit listrik berteknologi combined cycle (combined cycle power plant/CCPP) berkapasitas 120 megawatt (MW) pada akhir 2014.
 
Beroperasinya blast furnance dan CCPP dapat menurunkan beban biaya perusahaan, sehingga berimbas pada peningkatan laba. Dengan demikian, daya saing perseroan lebih optimal di masa mendatang.
 
Direktur Utama Krakatau Steel (KS) Irvan K Hakim menjelaskan, blast furnace mengadopsi teknologi berbasis batubara dengan proses yang lebih efisien, sehingga menurunkan biaya produksi baja cair dan slab, meningkatkan marjin laba, dan menciptakan keseimbangan kapasitas produksi iron making, steel making & rolling mill.
 
“Blast furnace bakal mampu menurunkan beban konsumsi listrik hingga 50% dibandingkan pola konvensional yang dilakukan sekarang,” kata Irvan di Jakarta, akhir pekan lalu.
 
Irvan menegaskan, berdasarkan perhitungan, setiap 100 kwh per ton penurunan konsumsi listrik akan berimbas pada penurunan beban biaya produksi hingga US$ 10 per ton dengan tarif listrik terbaru. Hal itu terbukti di beberapa pabrik baja lain yang menggunakan hot metal di dalam proses electric arc furnace (EAF). Hingga kuartal III-2014, proses pembangunan fisik blast furnace sudah mencapai 62,4% dan diharapkan bisa mencapai 100% pada kuartal III-2015. “Upaya meningkatkan daya saing biaya yang dilakukan melalui pembangunan blast furnace berteknologi batubara ini diharapkan akan semakin membuat kinerja produksi lebih efisien,” ujar Irvan.
 
Sementara itu, pembangunan CCPP 120 MW akan berdampak pada peningkatan kapasitas produksi listrik, menurunkan biaya produksi, dan meningkatkan efisiensi pabrik baja yang berujung pada peningkatan laba. Irvan memproyeksikan, pengoperasian CCPP bisa dilakukan pada akhir 2014, karena saat ini sedang dalam proses uji kinerja (performance test).
 
Program efisiensi juga dilakukan dengan mengonversi boiler 400 MW yang saat ini berbasis gas menjadi berbasis batubara. Program konversi energi ini akan dilakukan dengan konversi tahap awal 2x80 MW terlebih dahulu mulai tahun ini.  Selain itu, menurut Irvan, perseroan menjalankan pola operasi optimum pada direct reduction plant (DRP), slab steel plant (SSP), billet steel plant (BSP), dan pola operasi maksimal pada hot strip mill untuk menghasilkan produk baja lembaran panas. Hal itu dapat meningkatkan pendapatan dan laba perseroan.
 
Adapun tantangan industri baja di masa depan antara lain tingginya kenaikan harga energi, fluktuasi harga bahan baku dan produk jadi, pelemahan rupiah, dan membanjirnya produk baja impor. Untuk itu, perseroan akan terus meningkatkan efisiensi dan daya saing.

 Dilihat : 6916 kali