29 Agustus 2014
Press Release : PT Krakatau Steel Jalankan Empat Strategi Optimalisasi Kinerja

Kapasitas produksi baja perusahaan ditargetkan meningkat 127% jadi 7,15 juta ton

Jakarta, Jumat 29 Agustus 2014 – Manajemen PT Krakatau Steel Tbk (PT KS) tengah menjalankan empat strategi guna mengoptimalkan kinerja perusahaan ke depan. Langkah-langkah tersebut adalah meningkatkan daya saing biaya, memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan produk bernilai tambah tinggi, dan meningkatkan bisnis non-baja.

Direktur Utama PT KS Irvan K Hakim mengatakan, keempat langkah strategi yang dijalankan oleh manajemen bertujuan agar kapasitas produksi perusahaaan meningkat 127%, dari 3,15 juta ton pada 2013 menjadi 7,15 juta ton pada 2018 dan peningkatan pendapatan non core (di luar bisnis baja), sebesar 87% dari US$ 333 juta menjadi US$ 624 juta pada periode yang sama. Peningkatan kapasitas ini, dilakukan dengan adanya pengembangan di Krakatau Steel dan juga perusahaan afiliasinya. Diharapkan, peningkatan ini akan mampu mengurangi volume impor baja nasional.

Lebih lanjut Irvan memaparkan, peningkatan kapasitas produksi dilakukan guna memenuhi pasar baja domestik yang terus tumbuh serta mempertahankan posisi Krakatau Steel sebagai pemasok baja dominan. Krakatau Steel akan membangun hot strip mill (HSM) II, yakni lini baru untuk memproduksi baja lembaran canai panas berkapasitas 1,5 juta ton/tahun, serta yang telah selesai adalah pendirian pabrik baja terpadu PT Krakatau Posco (perusahaan patungan antara Perseroan dengan Posco) dengan kapasitas produksi 3 juta ton/tahun, terdiri atas produksi 1,5 juta ton pelat dan 1,5 jutaan ton slab untuk bahan baku perseroan, serta pendirian pabrik baja profil dan batangan PT Krakatau Osaka Steel (bekerjasama dengan Osaka Steel Corporation) berkapasitas 500 ribu ton/tahun.

Sementara itu, upaya meningkatkan daya saing biaya dilakukan melalui pembangunan pabrik Blast Furnace berteknologi batu bara yang diharapkan akan semakin membuat kinerja produksi semakin efisien.

Sedangkan peningkatan produksi produk-produk bernilai tambah tinggidilakukan, menurut Irvan, antara lain melalui pembangunan pabrik Galvanizing & Annealing Line PT Krakatau Nippon Steel Sumikin. Pabrik hasil kerja sama dengan Nippon Steel Sumitomo Metal Corporation ini akan memproduksi baja galvanizing dan anealing untuk sektor otomotif dengan kapasitas 500.000 ton per tahun.

Irvan menambahkan, manajemen juga melakukan diversifikasi portofolio guna memperbesar pendapatan dari bisnis non core, melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga gas & uap PT Krakatau Daya Listrik sebesar 120 MW, guna memenuhi kebutuhan listrik perseroan, menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keandalan peralatan. Melalui PT Krakatau Tirta Industri, kapasitas pasokan air bersih ke kawasan industri akan ditingkatkan dari 37 juta meter kubik (M3) menjadi 56 juta M3/tahun serta ekspansi kapasitas pelabuhan PT Krakatau Bandar Samudera sehingga pelayanan bongkar muat meningkat dari 10 juta ton menjadi 25 juta ton/tahun.

Seluruh strategi tersebut dijalankan manajemen guna menyikapi dinamika perekonomian global saat ini dan di masa mendatang. Irvan K Hakim menjelaskan, hingga pertengahan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi dunia masih mengalami perlambatan sebagai dampak krisis keuangan yang berkepanjangan di negara-negara Eropa.

“Kondisi ekonomi dunia tersebut berdampak pada menurunnya jumlah permintaan baja di pasar global maupun domestik yang diikuti dengan turunnya harga jual produk. Hal tersebut diperburuk dengan fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika,” ujar dia.

Menurut Irvan, menghadapi kondisi ekonomi yang masih penuh ketidakpastian, tingginya kenaikan harga energi, pelemahan rupiah, tekanan berupa membanjirnya produk baja impor dan lain-lain, perseroan dalam jangkapendek akan mengoptimalkan pasokan slab baja dari PT Krakatau Posco, sehingga akan mengurangi biayaenergi listrik dan gas pada proses hulu.

Pemilihan pola ini akan diikuti dengan pengaturan tenaga kerja padabagian Iron & Steel Making. Pola operasi ini diharapkan tidak berjalan dalam waktu yang lama dan akan dilakukan penyesuaian sejalan dengan perbaikan ekonomi dunia dan kondisi pasar baja yang lebih baik serta selesainya beberapa proyek strategis yang sedang dilaksanakan.

 

Aset Meningkat

Sementara itu, PT Krakatau Steel Tbk (Persero) membukukan penjualan produk baja sebanyak 1.128.466 ton pada Semester I 2014, turun sebesar 5,5% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, sebesar 1.193.730 ton. Perseroan juga mencatatkan penurunan nilai penjualan sebesar 18% Year-on-Year  (YoY) akibat turunnya harga jual rata-rata produk baja KS seperti penurunan harga jual rata-rata produk HRC sebesar 5,3% (YoY), karena jatuhnya harga komoditas dunia.

 “Turunnya harga jual rata-rata produk baja Perseroan sejalan dengan jatuhnya harga baja di pasar internasional dan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS,” kata Irvan K Hakim.

Ia menjelaskan, harga pokok penjualan juga mengalami penurunan sebesar 11,9% (YoY) menjadi US$ 881,75 juta, sejalan dengan penurunan nilai penjualan. Selain itu, adanya penurunan harga bahan baku iron ore pellet (IOP) sebesar 1,9% (YoY) diimbangi oleh kenaikan harga gas, masing-masing sebesar 6,6% dan sebesar 19,2% untuk gas PGN dan gas pertamina.

Dengan adanya penurunan harga jual rata-rata produk baja, menurut Irvan, menyebabkan laba kotor Perseroan turun 74,6% menjadi sebesar US$ 31,5 27,45 juta dibandingkan pada 2013.  Sedangkan dari sisi laba-rugi bersih, perseroan mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 88,68 juta pada semester I 2014, atau jika dibanding pada tahun sebelumnya laba sebesar US$ 10,63 juta.

Kerugian tersebut disebabkan hilangnya nilai penjualan sebesar US$ 199.992 akibat turunnya volume penjualan sebesar 5,5% dan harga jual turun rata-rata 9,7% dan juga rugi dari entitas asosiasi sebesar US$ 42,27 juta, yang terutama sebesar US$ 42,16 juta berasal dari PT Krakatau Posco (Joint Venture PT Krakatau Steel Tbk dengan Posco Korea) mengingat perusahaan ini baru beroperasi pada Desember 2013 lalu, sehingga membutuhkan learning curve. Proses trial ini membutuhkan beberapa perbaikan di beberapa fasilitas produksinya.

Sementara itu, nilai aset total Perseroan tercatat sebesar US$ 2,569 juta, naik 7,9% (YoY) akibat kenaikan dari kas, piutang usaha, persediaan dan aktiva tetap. Hal ini sejalan dengan peningkatan liabilitas.


 
 

 Dilihat : 14343 kali