06 Mei 2014
Impor Baja Boron Rugikan Negara Rp 439 Miliar

Investor Daily, 6 Mei 2014

JAKARTA – Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) memprediksi, negara mengalami kerugian sebesar Rp 439 miliar pada 2013 akibat penyalahgunaan bea masuk (BM) atas impor baja yang mengandung boron (baja panduan). Berdasarkan pantauan IISIA, banyak diketemukan adanya importasi atas baja yang ditambahkan boron untuk memanfaatkan kebijakan bebas BM baja panduan ke pasar domestik.

“Ada total 4 HS baja paduan (7225, 7227, 7228, 7229) impor yang mengalami lonjakan luar biasa selama empat tahun terakhir. Ditaksir, potensi kerugian negara bisa mencapai angka Rp 395 miliar per tahun. Bahkan, pada tahun 2013, potensi kerugian negara mencapai Rp 439 milar,” kata Pengurus IISIA Komite Standarisasi dan Sertifikasi Basso D Makahanap saat diskusi tentang Prospek dan Tantangan Industri Baja Nasional di Jakarta, Senin (5/5).

Dia menjelaskan, modus penyalahgunaan BM baja panduan dilakukan dengan mencampurkan boron pada produk baja yang seharusnya tidak memerlukan adanya penambahan. Akibatnya, komoditas itu dapat masuk ke pasar domestik dengan BM 0% sesuai dengan kebijakan yangada. Karena itu, Basso mengatakan, pihaknya mengusulkan agar dilakukan pembenahan dan penertiban pasar domestik, diantaranya terkait penyimpangan pemanfaatkan BM impor baja boron. Pembenahan tersebut merupakan salah satu dari tiga tahapan pengembangan industri baja nasional yang diajukan IISIA.

“Kami mengusulkan tiga tahapan pengembangan industri baja nasional agar bisa tangguh, yakni tahap pembenahan dan penertiban pasar domestik. Ini menyangkut isu-isu unfair trade yang dihadapi sektor baja,” kata Basso.

Tahapan kedua, lanjut dia, adalah penguatan struktur dasar industri besi baja nasional. Hal itu dilakukan dengan sinkronisasi kebijakan, cetak biru (blue print) industri besi baja nasional, pembangunan infrastruktur dan energi yang memadai, pengaturan ketenagakerjaan, serta kemandirian bahan baku industri besi baja. “Industri kita masih harus mengimpor bahan baku. Scrap kita masih bergantung 60% dariimpor dan bijih besi sekitar 80%, karena industri di dalam negeri belum mampu secara maksimal mengolah bijih besi jenis kandungan lokal. Jika investasi Krakatau Posco sudah terealisasi, maka impor bijih besi kita baru bisa berkurang,” kata Basso.

Tahapan ketiga, lanjut dia, dilakukan dengan percepatan pembangunan industri besi baja nasional. DirjenBasis Industri Manufaktur Kementerian Perindutrian (Kemenperin) Harjanto mengatakan, kemampuan teknologi yang terbatas menyebabkan industri besi baja di dalam negeri belum mampu mengolah bijih besi lokal. Pasalnya, sebagian besar bijih besi kandungan Indonesia adalah jenis laterit.

“Tapi, semakin teknologi berkembang, industri- industri kita dan investasi-investasi baru di sektor baja sudah bisa memanfaatkan bijih besi lokal. Importasinya sudah semakin berkurang,” kata Harjanto.

Terkait impor baja boron, menurut Harjanto, draf aturan untuk menyelesaikan persoalan tersebut sudah final. “Sekarang dalam pembahasan tim teknis, kami sudah ajukan usulan. Draf aturannya sudah selesai, tinggal diteken saja. Nanti berupa Peraturan Menteri Perdagangan dengan larangan terbatas,” kata Harjanto.

 Dilihat : 5682 kali