24 Januari 2014
Bahan Baku Baja, Harga Berpotensi Naik 20%

Bisnis Indonesia, 24 Januari 2014

Penulis: Riendy Astrio

Hal: 21

JAKARTA—Harga baja dunia diprediksi naik 15%-20% pada Januari-Juni 2014 setelah berada pada posisi rendah sepanjang tahun lalu. Dengan demikian, konsumen baja diimbau untuk menyesuaikan kalkulasi bisnis bila ingin membuat perencanaan proyek. 

Chairperson Indonesian Iron and Steel Industries Association (IISIA) Irvan Kamal Hakim mengatakan sepanjang 3 pekan selama Januari 2014, harga bahan baku baja, mulai dari bijih besi, scrap, dan slab memperlihatkan perbaikan.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku baja saat ini menjadi indikator penting terjadinya kenaikan harga pada produk hilirnya.

“Antara hari ini sampai Juni 2014, kami memproyeksikan harga baja di pasaran internasional akan naik. Dibandingkan dengan Desember 2013 akan naik sekitar 15%—20%. Ini good news,” kata Irvan, Kamis (23/1). Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada pengguna baja di seluruh daerah agar segera berpikir dan menganalisis kembali proyek yang direncanakan. “Misalnya harga proyek sekian miliar, itu harus dianalisis lagi dengan harga baja yang baru untuk disesuaikan. Pemilik proyek, pengguna baja akhir, rumah tangga yang mau membangun, segera buat keputusan sekarang. Harga baja akan naik,” tambah Irvan.

Saat ini, harga baja canai panas (hot rolled coils/HRC) berketebalan di atas 2 mm pada 2013 sulit mencapai harga US$700 per ton. Pada September, harga HRC hanya sekitar US$684 per ton. Pada 2009—2010, harga HRC padahal pernah menembus hingga US$1.100 per ton.

Meskipun harga baja pada 2014 membaik, kata Irvan, hal tersebut tidak ada pengaruhnya dengan permintaan baja saat ini. “Kalau bicara permintaan, pasti tumbuh. Rumus permintaan itu, harga dikalikan kurs. Kalau kurs naik, barang dari baja juga harganya akan naik dan memengaruhi daya beli.”

Menurutnya, nilai rupiah saat ini kurang mendukung industri besi dan baja nasional. Selain itu, masalah lain seperti kenaikan upah minimum regional (UMR) serta rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang berlaku pada 1 Mei 2014 juga membuat produsen industri besi baja tertekan.

Bergantung Impor

Industri besi dan baja, kata Irvan, sangat bergantung pada komponen impor. “Industri baja global sepanjang 2 tahun terakhir berada di tingkat yang rendah, terutama dari sisi harga. Ini berbeda dengan permintaan yang tetap tumbuh,” tambahnya.

Saat ini, anggota IISIA berjumlah 361 perusahaan dan seluruh perusahaan tersebut meminta keringanan berupa perpanjangan jangka waktu kenaikan.

“Kami setuju bahwa pada akhirnya subsidi listrik akan dicabut, tetapi kalau naik Mei ini, biaya produksi akan naik hingga 45% sampai akhir tahun. Kalau biaya produksi naik dan kurs melemah daya beli bagaimana?” katanya.

Menurut Irvan, permintaan pasar memang masih akan tumbuh. Namun, sampai kapan industri bisa bertahan untuk menghasilkan baja bila kebijakan dan kondisi yang ada saat ini tidak mendukung? “Kami tidak ingin produksi sampai diturunkan. Kalau produksi turun, kapasitas akan turun.” Pada sisi lain, dia memperkirakan investasi untuk pabrik baru maupun perluasan di sektor besi dan baja pada 2014 akan menurun, atau akan sulit mengejar pertumbuhan yang sangat massif seperti pada 2013.

Irvan mengatakan bukan hanya investasi di sektor besi dan baja yang menurun, tetapi hampir di semua sektor manufaktur. Menurutnya, investor, baik lokal maupun asing lebih berhati-hati karena ketidakstabilan rupiah. “Selain itu ada faktor tahun politik sedangkan suku bunga juga sedang tinggi sehingga modal bisnis jadi lebih mahal.” Menurutnya, potensi melemahnya investasi baja pada tahun ini diperkirakan lantaran perbankan sulit memberikan pinjaman. “Investasi berjalan hanya pada proyek yang sudah memiliki pendanaan atau investasi yang multiyears,” tambahnya. 

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Realisasi Investasi Asing (PMA) sektor industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik pada 2013 mencapai US$3,3 miliar dengan 546 proyek. Adapun yang melalui penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp7,5 triliun dengan 104 proyek. 

 Dilihat : 16943 kali