24 Agustus 2007
Penghapusan Bea Masuk Dorong Industri Hulu Baja

JAKARTA   Pemerintah optimistis kebijakan penghapusan bea masuk baja canai panas (hot rolled coil/HRC) akan mendorong pertumbuhan industri hilir. Dipermudahnya impor baja karena pasokan HRC dalam negeri sangat terbatas. Industri hulu dalam negeri dinilai tak akan tergerus dengan kebijakan ini. "Sebaliknya, industri hulu dalam negeri akan semakin kompetitif dengan meningkatkan daya saing," ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Ansari Bukhari kemarin.

Kebijakan penghapusan bea masuk HRC diberlakukan sementara selama enam bulan. Pembebasan bea masuk hanya untuk HRC ukuran dua milimeter. HRC ukuran dua millimeter itu akan diolah menjadi baja canai dingin (cold rolled coil/CRC). PT Krakatau Steel merupakan satu-satunya industri hulu yang memproduksi HRC. Sementara itu, industri hulu yang mengolah HRC menjadi CRC adalah Krakatau Steel, PT Essar Dhananjaya, PT Gunung Garuda, dan PT Little Giant. Defisit pasokan HRC dalam negeri mencapai 400 ribu ton per tahun. Setiap tahun kebutuhan industri hampir satu juta ton. Sedangkan Krakatau Steel hanya menghasilkan 600-700 ribu ton. Salah satu hambatan Krakatau Steel tak berproduksi maksimal adalah terganggunya pasokan gas.
Menurut Ansari, usul pembebasan bea masuk datang dari PT Essar Dhananjaya. Perusahaan asal India itu mengeluhkan mahalnya HRC yang mesti diimpor. "Setelah pembebasan bea masuk, mereka berjanji akan meningkatkan kapasitas pengolahan CRC," ujarnya. PT Essar adalah kompetitor utama Krakatau Steel dalam menghasilkan CRC. Dengan pembebasan bea masuk, Essar dapat impor HRC dari induk usahanya di India. Pemerintah berharap pembebasan bea masuk HRC mengakibatkan penurunan harga CRC. "Turunnya harga CRC akan mendorong perkembangan industri hilir," ujarnya. CRC merupakan bahan utama industri seng dan perkakas elektronik.

Koran Tempo, Page : B2, Thursday, 23 August 2007.

 Dilihat : 4968 kali