27 Maret 2013
Industri Baja Nasional Membaik

Jakarta – Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) Edward Pinem mengatakan, industri baja nasional mulai membaik pada kuartal I-2013. Sebelumnya, konsumsi baja nasional diproyeksikan tumbuh 6-10% menjadi 11,10-11, 41 juta ton tahun ini dibandingkan 2012 sebanyak 10,47 juta ton.

“Salah satu faktor perbaikan industri baja nasional ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil, yang akan membuat permintaan baja tumbuh sekitar 10% tahun ini,” ujar Edward di Jakarta, Selasa (26/3).

Menurut dia, kondisi tersebut berbeda dengan sepanjang tahun 2012 ketika industri baja regional tertekan oleh krisi yang melanda Eropa dan Tiongkok, sehingga menekan industri nasional. Krisis sempat membuat permintaan dan pasokan baja tidak seimbang, sehingga membuat harga baja jatuh.

Krisis juga mengakibatkan kinerja perusahaan baja sejumlah negara kawasan Asean, seperti Malaysia dan Thailand, sangat tertekan dan mengalami kerugian tahun lalu. Bahkan, industri di Thailand sempat tidak berproduksi dan baru mulai beroperasi lagi pada 2013 setelah menyelesaikan persoalan keuangannya.

Edward melanjutkan, konsumsi baja di Indonesia sebenarnya cukup rendah dibandingkan dua negara tetangga tersebut, sehingga seharusnya bisa tumbuh lebih baik. Produksi industri baja di Indonesia sebagian besar diserap oleh sektor properti dan infrastruktur.

“Sedangkan untuk industri otomotif masih terbatas. Sementara di negara lain seperti Thailand, industri baja banyak dikonsumsi oleh industri otomotif, “ katanya.

Dia menjelaskan, pertumbuhan infrastruktur di Indonesia sebenarnya cukup pesat. Namun karena basis pendanaannya dari pinjaman luar negeri, komponen baja yang dipergunakan juga berasal dari negara pemberi pinjaman. “Hal inilah yang akan membuat industri baja sulit berkembang,” imbuhnya.

Perlu Proteksi
Karena itu, Pinem pun meminta pemerintah mau memberikan proteksi kepada industri baja nasional yang tengah menghadapi kondisi kurang menguntungkan tersebut. Pemerintah diminta segera mengeluarkan kebijakan untuk memberikan perlindungan kepada industri baja di dalam negeri, seperti yang telah dilakukan di sejumlah negara.

“Perlindungan ini sangat penting di tengah kondisi indutri baja dunia yang masih mengalami tekanan sebagai dampak krisis ekonomi di Eropa dan Tiongkok,” kata Edward, seperti dikutip Antara.

Dia menuturkan, pasar baja di Indonesia saat ini sangat terbuka dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Negara-negara tersebut justru memberikan perlindungan sangat ketat terhadap industri baja di dalam negerinya.

Saat ini, puluhan hingga ratusan importir baja yang tidak memiliki industri di dalam negeri dan hanya berperan sebagai pedagang dengan mudahnya memasukan baja impor ke pasar Indonesia. Akibatnya, harga baja di pasar domestik seringkali tidak stabil.

Para pedagang tersebut juga seringkali menyebutkan dalam dokumen importasinya bahwa baja yang didatangkan memiliki kandungan boron. Karena itu, produk impornya medapatkan keringanan bea masuk tanpa melalui proses pengujian terlebih dahulu seperti halnya di negara lain.

“Kalau di negara lain, dengan menyebutkan dalam dokumennya mengandung komposisi kimia boron di dalamnya, baja akan diambil sampelnya untuk diteliti, apakah pernyataan dalam dokumennya tersebut benar adanya,” ujarnya.

Menurut dia, perlindungan yang diberikan pemerintah kepada industri baja hanya pemberian label SNI (Standar Nasional Indonesia). Persoalannya, SNI sejauh ini belum sampai pada tahap menguji ada tidaknya kandungan boron pada baja impor. Padahal, peralatan untuk menguji kandungan boron dalam baja sebenarnya sudah ada. (lm)

sumber : Investor Daily (27 /3) hal 25

 

 Dilihat : 8792 kali