16 November 2007
Essar Indonesia Ragu Bangun Pabrik HRC

JAKARTA (Media): Produsen pengolahan baja canai dingin (cold rolled coils / CRC) asal India, PT Essar Indonesia, ragu merealisasikan pembangunan pabrik baja canai panas (hot rolled coils I HRC) berkapasitas 2 juta ton per tahun di Indonesia.
Pasalnya, manajemen Essar khawatir rencana penerapan sanksi bea masuk antidumping (BMAD) baja dilakukan tidak cermat.

"Essar memerlukan terciptanya iklim usaha yang baik di Indonesia. Suatu ironi bilamana terjadi sebaliknya, yaitu investasi yang sudah ada malah ditutup dan hengkang. Ini akan jadi preseden buruk," kata Penasihat Teknis Perluasan dan Pengembangan Essar Indonesia Djoko Subagyo, di Jakarta, kemarin.

Hal itu terkait dengan proses investigasi baja dumping yang tengah dilakukan Komisi Antidumping Indonesia (Kadi). Namun, rencana penerapan BMAD tersebut mengundang reaksi keras dari produsen baja hilir di Indonesia.

Ketidakpastian tersebut akhirnya membuat perusahaan berpikir dua kali untuk menjalankan rencana pendirian pabrik HRC di Pulau Jawa.

Awalnya, keberadaan pabrik tersebut akan melengkapi rencana pembangunan pabrik di sejumlah negara, seperti industri baja terpadu di Trinidad Tobago berkapasitas 2,5 juta ton dan pabrik HRC berkapasitas 2 juta ton per tahun di Vietnam. "Proyek-proyek itu terkait dengan rencana pembangunan pabrik baja hulu di negara bagian Orrisa, India, yang sangat kaya akan bijih besi," papar Djoko yang pernah menduduki posisi direktur pemasaran PT Krakatau Steel (KS) pada 1996-1998 itu. Selama berdirinya Essar di In

donesia, lanjut Djoko, anak perusahaan Essar Steel Holding Ltd asal India itu merencanakan pengembangan usaha ke arah industri baja hulu, maupun bidang lain seperti energi.

Essar Group merupakan konglomerasi beberapa kegiatan usaha, seperti minyak dan gas, transportasi, listrik, telekomunikasi, baja, dan konstruksi.

Saat ini, pabrik baja Essar yang berlokasi di Kawasan Industri Cibitung memiliki kapasitas produksi 400 ribu ton per tahun dan pabrik seng berkapasitas 150 ribu ton per tahun.Rencana pendirian pabrik HRC di Indonesia semula dini "Essar memerlukan terciptanya iklim usaha yang baik di Indonesia. Suatu ironi bilamana terjadi sebaliknya." Djoko Subagyo, Penasihat Teknis Essar Iai sebagai satu solusi ketersendatan pasokan HRC dari dalam negeri, yang selama ini disuplai Krakatau Steel. Pasalnya, industri seng memerlukan bahan baku CRC yang dihasilkan dari HRC.

"Sebagian besar CRC untuk pabrik seng di Indonesia memerlukan HRC yang tidak lebar yakni 930 milimeter atau kurang dari 1 meter, dengan ketebalan 2 milimeter. Ini ukuran yang tidak ekonomis bagi pabrik HRC besar seperti KS," paparnya.

Akibat ketersendatan pasokan bahan baku, lanjut dia, hal itu memaksa perusahaan mengimpor untuk menjaga keberlangsungan produksi. Impor HRC diperoleh dari China, Thailand, Taiwan, India, dan Rusia. (Zhi/E-1)

Sumber :  Media Indonesia, Page : 19 

 

 Dilihat : 4041 kali