19 Februari 2013
Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Baja Terbesar

Indonesia berpotensi menjadi negara dengan produksi besi dan baja terbesar di kawasan regional. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang akan mendorong peningkatan konsumsi besi baja.

"Saat ini konsumsi besi baja Indonesia baru mencapai 10,95 juta atau peringkat kedua terbesar di ASEAN," kata Direktur Messe Dusseldorf Asia Gernot Ringling, saat memberikan paparan "Pameran Internasional Logam dan Baja 20-23 Februari 2013" di Jakarta.

Menurut Ringling, permintaan terhadap besi baja di Indonesia akan terus meningkat menyusul program konektivitas infrastruktur tahun 2025 meliputi pembangunan jalan, pelabuhan laut, bandara, jalan kereta api, pembangkit energi yang akan disinkronkan dengan koridor ekonomi nasional. "Sesuai dengan kondisinya industri besi dan baja akan bergerak dari negara maju ke negara yang sedang berkembang seperti Indonesia," ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini perekonomian Indonesia menduduki peringkat 16 terbesar di dunia, dan diperkirakan akan mencapai posisi tujuh pada tahun 2030. Pada saat yang bersamaan, jumlah penduduk kelas menengah ke atas akan mencapai 135 juta orang, melonjak dari sebelumnya sekitar 45 juta orang, sedangkan tingkat populasi penduduk yang tinggal di kota mencapai 71 % dari total penduduk, naik dari sebelumnya hanya sekitar 53%.

"Kekuatan prospek industri besi dan baja di Indonesia terlihat dari nilai investasi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp40 triliun pada tahun 2015," ujarnya.

Secara keseluruhan diperkirakan akan terdapat sekitar 300 perusahaan dalam negeri mampu yang memproduksi 5,5 juta ton produk baja per tahun, dengan tingkat penyerapan tenaga kerja hingga mencapai 300.000 orang.

Namun, Asosiasi Industri Baja dan Besi menilai pertumbuhan industri logam dan baja tidak terlalu prospektif. Tahun ini pertumbuhan industri ini diprediksi turun di kisaran 4-5%. Padahal, industri logam dan baja di tahun 2011 sempat mencatatkan pertumbuhan 16,26%.

"Tahun ini para pelaku usaha memprediksi kondisinya belum berubah dan berharap produksi bisa normal seperti dua tahun lalu," kata Ketua Asosiasi Industri Baja dan Besi Edward R Pinem, beberapa waktu lalu. (ant)

Seputar Indonesia, Selasa, 19 Pebruari 2013

 Dilihat : 8101 kali