28 Agustus 2012
Semester II, Industri Manufaktur Tumbuh 7,03%

Menteri Perindustrian (Menperin) memprediksi, industri manufaktur nasional bisa tumbuh 7,03% pada semester II-2012. Pertumbuhan pada semester II tersebut, akan membuat total pertumbuhan industri manufaktur Indonesia sepanjang 2012 bisa mencapai 7,05%.

“Saya yakin bisa tercapai. ltu juga sudah memperhitungkan kenaikan harga gas industri per 1 September ini,” kata Hidayat usai halalbihalal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di Jakarta, Senin (27/8).

Hidayat mengatakan, keyakinan tersebut didasarkan kondisi infrastruktur di dalam negeri yang sudah lebih baik. Pembangunan juga terus berjalan, dan biaya-biaya logistik sudah bisa semakin ditekan.

Secara total, dia menambahkan, pertumbuhan industri migas dan nonmigas nasional hingga akhir tahun 2012 dipatok mencapai 6,5%. Target itu diupayakan tercapai, di antaranya dengan menjaga pertumbuhan industri migas agar tidak menggerus pertumbuhan nonmigas, dan memacu pertumbuhan hilirisasi industri di sektor pertambangan.

Dia mengatakan, hilirisasi industri, pembangunan industri barang modal, dan penguatan industri bahan baku, akan menjadi fokus Kemenperin. Hal itu dilakukan untuk memperkuat industri manufaktur di Tanah Air.

Hidayat menambahkan, upaya untuk mencapai target pertumbuhan industri manufaktur nasional harus didukung semua pihak. “Dibutuhkan penyikapan yang sama dari semua komponen pemerintahan untuk mendukung sejumlah proyek investasi yang saat ini sudah on the pipeline,” tegas Hidayat.

Dia memparkan, sejumlah rencana investasi sudah dicanangkan dan siap direalisasikan, seperti pembangunan kilang di Tuban dan Balongan oleh investor Saudi Aramco dan Kuwait Petroleum Corporation. Selain mampu menekan impor BBM, kedua kilang itu diharapkan dapat menjadi dasar untuk membangun industri petrokimia di Tanah Air.

Selain itu, rencana investasi lain yang menunggu dilaksanakan adalah pembangunan kilang nafta (cracker nafta) oleh Honam Petrochemical. “Proyek ini tinggal menunggu penyelesaian dari menteri BUMN dan PT Krakatau Steel Tbk. Perusahaan BUMN tersebut diharapkan bisa menyediakan lahan sekitar 40 hektare (ha) yang dibutuhkan Honam,” kata Hidayat.

Ditemui di tempat yang sama, Direktur Utama PT KS Irvan K Hakim mengatakan, secara prinsip, Menteri BUMN sudah memberikan persetujuan, karena PT KS juga berencana membeli lahan baru. “Luasnya seperti yang dikatakan Pak Menteri tadi. Yang kami siapkan sekitar 40 ha. Permintaan mereka kan 60 ha. Tapi, belum ada perundingan secara komersial soal ini. Jadi, masih tergantung perundingannya,” jelas dia.

Menurut Hidayat, sejumlah rencana investasi petrokimia hulu di Tanah Air, dapat menyubstitusi impor petrokimia nasional yang saat ini mencapai total sekitar US$ 6 miliar per tahun.

Investasi lain, lanjut Hidayat, adalah pembangunan pabrik baja terintegrasi PT KS dan perusahaan besi baja asal Korea Selatan, Pohang Iron and Steel Company (Posco). Investasi oleh Krakatau Posco itu diharapkan mampu menambah kebutuhan pasokan baja di dalam negeri.

Hidayat juga menyinggung rencana investasi oleh pemanufaktur produk elektronik dan IT asal Taiwan, Foxconn. Nilai investasi Foxconn yang akan mengalir di Indonesia diprediksi mencapai US$ 5-10 miliar dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan.


Sumber: Dikutip dari media cetak “Investor Daily, Edisi Selasa, 28 Agustus 2012, hal. 10”

 Dilihat : 10652 kali