28 Agustus 2012
Permintaan Baja Masih Tinggi

Pasar baja di dalam negeri diprediksi tumbuh 10% pada paruh kedua tahun ini, meskipun permintaan dan harga produk itu di dunia menurun akibat krisis keuangan di Eropa.

Irvan K. Hakim, Wakil Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA), menuturkan penurunan harga baja di pasar dunia lebih banyak disebabkan permintaan yang menyusut akibat krisis global.

Kendati demikian, permintaan di dalam negeri diyakini masih akan tumbuh sejalan dengan aktivitas konstruksi yang biasanya meningkat pada semester kedua.

“Intinya permintaan baja masih cukup baik, tetapi harga tetap mengacu pada pasar internasional, terutama harga minyak dan logam. Mestinya [pertumbuhan semester II] bisa sampai 10% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” katanya, Senin (27/8).

Keyakinan itu, menurut Irvan, didasarkan pada pola penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang biasanya baru meningkat pada paruh kedua setiap tahun. Aktivitas belanja modal itu biasanya diikuti dengan geliat di sektor konstruksi, seperti pembangunan jalan dan jembatan.

“Sektor otomotif mungkin agak sedikit menurun karena ada kebijakan penaikan uang muka kredit, tetapi saya yakin tahun depan secara psikologis orang tetap akan membeli kendaraan,” tuturnya.

Menurut Irvan, setiap pertengahan tahun industri baja biasanya mengalami perlambatan karena industri hilir mengurangi pembelian menjelang bulan puasa dan Lebaran. Namun, 6-8 pekan setelah Lebaran permintaan dan harga baja meningkat seiring dengan upaya industri mengisi kembali persediaan bahan bakunya.

“Itu berdasarkan statistik dalam 13 tahun terakhir, 12 tahun selalu begitu. Kecuali pada Lebaran 2008 saat krisis ekonomi global terjadi penurunan,” ujarnya.

Mengenai impor besi bekas (scrap) melalui kontainer yang tertahan di sejumlah pelabuhan, Irvan mengatakan kasus tersebut masih menjadi isu nasional. Namun, kasus itu tidak akan menghentikan impor scrap karena industri masih bisa menyiasatinya dengan menggunakan kapal tongkang.

“Kelihatannya teman-teman di industri baja swasta sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan masalah itu. Kalau impor scrap tidak bisa lewat kontainer, mereka bisa menggunakan kapal tongkang. Mereka tidak beli scrap, tetapi membeli yang semi-finish,” ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai rencana ekspansi PT Krakatau Steel Tbk, Irvan yang juga direktur utama BUMN itu mengungkapkan pihaknya akan membeli lahan baru dengan luas maksimal empat kali lipat dari 40 hektare tanah yang akan dilepas kepada Honam Petrochemical Corporation.

Sebagian lahan baru tersebut akan dimanfaatkan dalam pembangunan hot strip mill berkapasitas produksi 1 juta ton per tahun dengan investasi US$300 juta-US$400 juta.

Dia menuturkan dalam kerja sama investasi dengan Honam, KS siap melepas sekitar 40 ha lahannya dari 60 ha yang dibutuhkan perusahaan itu. Namun, sejauh ini belum ada perundingan secara komersial dengan Honam menyangkut luas lahan yang akan dilepas tersebut.

“Atas lahan yang akan dilepas ini, KS akan mengakuisisi lahan lain. Yang jelas, lebih luas dari yang akan kami lepas, bisa 3-4 kali lipat,” ujarnya.

Irvan belum bisa mengungkapkan lokasi lahan baru yang diburu KS ataupun anggaran untuk mengakuisisi lahan tersebut.

Proses akuisisi lahan baru ditargetkan berlangsung mulai akhir tahun ini sampai dengan tahun depan. “Pada prinsipnya kami ingin mengembangkan lahan baru sehingga nanti aset [yang dilepas] itu akan dijawab dengan aset lagi.”

Dibangun Pabrik

Menurut Irvan, sebagian dari luas lahan baru tersebut akan dibangun hot strip mill, sesuai dengan rencana aksi korporasi yang dicatatkan dalam prospektus ketika penawaran saham perdana (IPO).

KS sedang melakukan studi kelayakan proyek pabrik tersebut yang ditargetkan berproduksi pada 2015. Produksinya akan didistribusikan di dalam negeri dan kurang dari 10% diekspor.

“Untuk ekuitasnya, modalnya datang dari hasil IPO yang masih kami simpan,” tandasnya.

Menteri Perindustrian M. S. Hidayat menuturkan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kerja sama lahan tersebut kepada KS dan Honam. “Kami menyerahkan kepada kedua belah pihak soal rencana investasi perusahaan itu yang akan menggunakan lahan KS,” tuturnya.

Menurut Hidayat, investasi Honam diharapkan mampu memperkuat industri hulu dalam negeri, selain mengurangi ketergantungan impor produk petrokimia.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, nilai impor petrokimia mencapai US$6 miliar per tahun.

“Nilai impor itu sangat besar. Untuk mengurangi transaksi berjalan yang terus defisit, mau tidak mau kita harus memperkuat struktur industri nasional, mulai dari hulu hingga hilir,” tuturnya.


Sumber: Dikutip dari media cetak “Bisnis Indonesia, Edisi Selasa, 28 Agustus 2012, hal. i1”

 Dilihat : 14801 kali