14 Juli 2012
Logam Dasar Paling Terpuruk

Walaupun pertumbuhan industri non-minyak dan gas bumi pada triwulan pertama tahun 2012 sebesar 6,13 persen−lebih tinggi dari triwulan I tahun 2011 sebesar 5,90 persen, pertumbuhan cabang industri non-migas mulai mengindikasikan perlambatan. Dari sejumlah sektor industri non-migas, industri logam dasar mengalami pertumbuhan paling terpuruk.

Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengungkapkan hal itu dalam diskusi Forum Wartawan Perindustrian bertajuk “Kinerja Industri Baja di Tengah Kelangkaan Bahan Baku” di Jakarta, Jumat (13/7). Mengingat pertumbuhan besi baja menjadi penopang penting bagi sejumlah industri yang berperan menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan ekonomi global, Kementerian Perindustrian tidak ingin tinggal diam dalam menyelesaikan permasalahan industri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan industri non-migas pada triwulan I tahun 2012 dibandingkan dengan periode sama tahun 2011 ialah industri makanan, minuman, dan tembakau melonjak dari 4,23 persen menjadi 8,19 persen; industri pupuk, kimia, dan barang dari karet dari 0,09 persen menjadi 9,19 persen; serta industri semen dan barang galian non-logam dari 4,47 persen menjadi 6,11 persen.

Sementara industri logam dasar besi dan baja dari 17,56 persen menjadi 5,57 persen; industri tekstil, barang kulit, dan alas kaki dari 10,56 persen menjadi 1,41 persen; industri kertas dan barang cetak dari 4,34 persen menjadi 0,50 persen; industri alat angkut, mesin, dan peralatan dari 8,94 persen menjadi 6,23 persen; serta industri barang kayu dan hasil hutan dari minus 0,35 persen menjadi minus 0,86 persen.

Panggah menjelaskan, pokok persoalan industri baja terletak pada ketersediaan bahan baku yang sangat bergantung pada impor. Bahan baku produk baja sebagian besar masih diimpor. Di satu sisi, utilisasi sumber daya mineral logam bijih besi masih minim.

“Perlambatan pertumbuhan industri logam disebabkan sekitar 70 persen bahan baku berupa scrap masih tergantung pada impor serta peningkatan harga bahan baku akibat prosedur importasi scrap yang memakan waktu lama,” tutur Panggah.

Sebagai langkah mengatasi masalah ini, Panggah mengatakan, langkah yang perlu dilakukan adalah melarang ekspor bijih besi dan mendorong segera dibangunnya industri yang mengolah bijih besi menjadi bahan baku baja. Kemudian, melakukan eksplorasi untuk mendapatkan tambahan deposit.

Panggah mengatakan, solusi jangka pendek yang terus diupayakan adalah mempercepat penyelesaian pemeriksaan peti kemas.


Sumber: Dikutip dari media cetak “Kompas, Edisi Sabtu, 14 Juli 2012, hal. 19”

 Dilihat : 9496 kali