14 Januari 2010
Mandan dan Meratus Investasi Baja US$ 285 Juta

JAKARTA: Dua produsen baja, PT Mandan Steel dan PT Meratus Jaya Iron&Steel, akan merealisasikan investasi senilai US$ 285 juta pada tahun ini di Kalimantan Selatan. Mandan Steel merupakan produsen baja asal Tiongkok yang akan merealisasikan pembangunan pabrik baja hulu di Kalsel senilai US$ 220 juta.

Sedangkan Meratus merupakan usaha patungan (joint venture) PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk. Investasi Meratus di Kalsel ditujukan guna membangun pabrik baja hulu senilai US$ 65 juta.
Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Suryawirawan menerangkan, Mandan Steel akan mulai membangun pabrik baja hulu di Kalsel pada April 2010. "Mandan Steel akan ground breaking pada April tahun ini. Kalau Meratus tinggal menunggu operational schedule pada 2011," ujarnya di Jakarta, Selasa (12/1).

Menurut dia, Mandan Steel akan membangun pabrik berkapasitas 500 ribu ton pada tahap pertama April 2010. Pabrik baru itu akan memproduksi baja special alloy. "Mandan telah menjalin kontrak pengadaan bahan baku berupa bijih besi dengan Yuan Minning di Kalsel," tuturnya.

Dia menerangkan, Mandan Steel akan membangun pabrik baru di Kalsel dalam tiga tahap hingga 2012. Total produksi pabrik baru Mandan ditargetkan mencapai 3 juta ton pada 2012. "Investasi yang akan ditanamkan Mandan Steel bisa mencapai US$ 1 miliar," ujarnya.

Putu menjelaskan, selain Mandan dan Meratus, perusahaan baja lainnya yakni PT Semeru Surya Steel berencana membangun pabrik baja hulu di Kalsel. "Tapi, Semeru masih memilih mesin produksi yang akan digunakan, termasuk pemasoknya," ucapnya.

Dia menerangkan, investasi baja itu direalisasikan seiring lonjakan harga produk itu di dunia. Berdasarkan data Midle East Steel—lembaga riset baja di Timur Tengah, harga baja dunia melonjak 27% pada periode Januari 2009 dibandingkan Januari 2010 menjadi US$ 601 per ton dari US$ 430 per ton.

Putu menilai, lonjakan harga baja dunia terjadi seiring kenaikan harga minyak mentah menjadi US$ 83 per barel. "Selain itu, Tiongkok akan memangkas ekspor tax rebate sehingga produksi baja Negeri Tirai Bambu tersebut akan menurun," tuturnya.

Sedangkan terkait konsumsi baja domestik, lanjut dia, diprediksi meningkat 7-10% seiring pemulihan ekonomi global pascakrisis. Konsumsi baja nasional pada tahun ini diproyeksikan mencapai 8-9 juta ton. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan 2009 yang mencapai 7-8 juta ton. "Konsumsi baja nasional 2010 akan mendekati posisi 2008 sebanyak 8-9 juta ton," katanya.

Putu juga mengakui adanya kekhawatiran produsen baja lokal terkait dampak implementasi perdagangan bebas Asean-Tiongkok (AC-FTA). "Produsen baja nasional sudah berkali-kali berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian. Mereka mengaku khawatir, karena pascakrisis, dampak AC-FTA akan memukul sektor ini," ucapnya.
 

Konsumsi

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro sebelumnya menilai, konsumsi baja nasional dipasok 50% produksi lokal dan sisanya produk impor yang didominasi produk Tiongkok. Dengan perhitungan itu, impor baja Tiongkok mendekati 3 juta ton.

Dia menerangkan, dengan komposisi produksi baja lokal hampir sama dengan jumlah impor, IISIA mengkhawatirkan, AC-FTA justru semakin memperkuat posisi produk  baja impor asal Negeri Tirai Bambu itu.

Baja impor asal Tiongkok akan memiliki kekuatan yang mampu merusak (distorsi) harga di pasar domestik. "Ini yang kami khawatir. Kenaikan harga baja dunia belum tentu mempengaruhi pasar domestik jika produk impor masuk dengan banting harga," ujarnya.

Ia mencontohkan, jika harga baja impor Tiongkok lebih murah, produsen baja lokal tentu ikut menyesuaikan agar pangsa pasar di dalam negeri tidak menurun. "Jika tidak, produsen baja lokal takut produknya tidak terserap pasar," tuturnya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 4681 kali