21 Dessember 2009
Laba Latinusa Diproyeksikan Naik 143%

JAKARTA: Laba bersih PT Latinusa Tbk (NIKL) tahun depan diproyeksikan mencapai Rp 90 miliar, naik 143,2% dibandingkan tahun ini Rp 37 miliar. Pasalnya, permintaan produk perseroan, yaitu baja tipis berlapis timah (tinplate), bakal terus bertumbuh.

Direktur Keuangan Latinusa Erwin menjelaskan, konsumsi tinplate di Tanah Air masih relatif rendah, yakni kurang dari satu kilogram (kg) per orang. Sedangkan di beberapa negara Asean mencapai dua kg per orang. "Dengan kenyataan itu, peluang untuk pertumbuhan konsumsi tinplate masih sangat terbuka lebar," kata dia di Jakarta, pekan lalu.

Latinusa memproyeksikan tingkat produksi dan penjualan tinplate pada 2010 tumbuh signifikan. Dari total kapasitas produksi sebanyak 130 ribu ton, perseroan menargetkan penjualan sebesar 120 ribu ton. Pasalnya, pesanan tinplate hingga Maret 2010 telah mencapai 27 ribu ton. "Kami berharap penjualan tahun depan naik 30% menjadi Rp 1,6 triliun, laba juga dapat meningkat hingga tiga kali lipat atau mencapai Rp 90 miliar," tegas Erwin.

Tahun ini, menurut Erwin, laba bersih perseroan ditaksir mencapai Rp 37 miliar atau bertambah 15% dari target yang ditetapkan dalam prospektus penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebesar Rp 32 miliar.

Ke depan, Latinusa akan meningkatkan kapasitas produksi sekitar 23% menjadi 160 ribu ton dari tahun ini sebanyak 130 ribu ton. Nippon Steel, salah satu perusahaan baja tipis terbesar di dunia, akan menjadikan Latinusa sebagai produsen tinplate nomor satu di Asean.

Nippon Steel telah mengakuisisi 55% saham Latinusa milik PT Krakatau Steel bersamaan dengan IPO perseroan pekan lalu. Nilai akuisisi itu sekitar US$ 60 juta atau setara Rp 408 miliar (Rp 408 per saham).

Nippon Steel akan menjamin pasokan bahan baku Latinusa berupa baja tipis yang selama ini tersendat. Selain itu, kemampuan teknologi dan modal yang kuat dari Nippon Steel akan mendorong pertumbuhan usaha Latinusa.

Belum lama ini, Latinusa sukses menggelar IPO dengan melepas 504,67 juta (20%) saham senilai Rp 164,01 miliar. Saham perseroan dengan kode NIKL ditawarkan sebesar Rp 325 per unit. Namun, pada perdagangan pekan lalu, NIKL sempat tertekan ke level Rp 260 dan akhirnya ditutup di posisi Rp 290.

Analis pasar modal Haryajid Ramelan mengatakan, tekanan terhadap harga NIKL disebabkan kondisi pasar yang kurang baik. Selain itu, likuiditas saham perseroan relatir minim, yakni hanya 504,6 juta saham.
 
Namun, menurut Haryajid, jika ditinjau dari sektor usaha, prospek saham Latinusa masih sangat menjanjikan. Perseroan merupakan perusahaan tinplate satu-satunya di Indonesia, yang baru mampu memproduksi 130 ribu ton. Padahal, kebutuhan tinplate nasional mencapai 200 ribu ton.

Dari segi valuasi, saham perseroan NIKL masih terbilang murah. Jika mengacu laporan keuangan per Juli 2009, laba bersih Latinusa sebesar Rp 12 miliar menghasilkan rasio harga saham dibandingkan laba per saham (price to earning ratio/PER) sekitar 9 kali. Valuasi itu di bawah PER saham-saham di pasar modal yang rata-rata mencapai 12 kali.


(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 5655 kali