05 November 2009
KS INCAR PELAT KAPAL KALTIM, Investasi Galangan Kapal Butuh US$ 5,4 Miliar

SAMARINDA: Kebutuhan investasi galangan kapal Indonesia mencapai US$ 5,4 miliar pada tahun ini hingga 2015. Investasi itu ditujukan untuk mencapai kapasitas 6 juta ton dead weight ton (DWT) atau mendekati kapasitas Vietnam sebesar 6,1 juta ton DWT pada saat ini.

"Tahun 2015 kami menargetkan Indonesia masuk 10 besar industri galangan kapal di dunia," papar Budi Dharmadi, direktur jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Departemen Perindustrian (Depperin), di Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (3/11).
        
Dari segi kapasitas galangan kapal dunia, Indonesia saat ini posisi ke-18 dengan kapasitas 661 ribu ton DWT per tahun. Sementara itu, posisi Vietnam urutan ke-5. Pada posisi puncak dipegang oleh Tiongkok, disusul Korea dan Jepang. Utilisasi galangan kapal Indonesia berkisar 50-60%.

Seorang sumber di Depperin menuturkan, investasi untuk kapasitas galangan kapal sebesar 30 ribu ton DWT membutuhkan dana sekitar US$ 30 juta. "Investasi itu dengan teknologi tinggi," jelas Budi.
        
Namun, menurut dia, dengan menggunakan teknologi sedang, nilai investasi itu bisa ditekan hampir separuhnya. Yang terpenting, kata dia, pasokan bahan baku diambil dari produsen lokal.
        
Tahun 2008, nilai investasi di sektor galangan kapal sekitar Rp 850 miliar. "Mendekati Rp 1 triliun, namun tahun ini slow down," ujar Budi.
        
Penguatan industri manufaktur galangan kapal diharapkan bisa memenuhi kebutuhan transportasi antarpulau. Apalagi Indonesia memiliki sekitar 18 ribu pulau.

Di sisi lain, dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden No 5/2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional, jelas Budi, itu juga mendorong kebutuhan kapal di dalam negeri menjadi sangat besar. Tingginya permintaan otomatis membutuhkan ekspansi dan reparasi baru dari industri galangan lokal untuk mengurangi impor.

Pemerintah, katanya, menetapkan industri perkapalan dan komponennya merupakan salah satu sektor khusus yang mendapatkan insentif keringanan pajak penghasilan (PPh) sebesar 30% selama 6 tahun seperti yang tertuang dalam PP No. 62/2008 tentang insentif pajak. Belum lagi penerapan azas cabotage bakal diberlakukan pada 2011. "Ketika itu, semua kapal yang beroperasi di Nusantara harus berbendera Indonesia," jelasnya.

Budi menuturkan, hal itu juga terkait dengan konsentrasi pemerintah yang mendorong ketersambungan wilayah di Tanah Air. "Alat angkut kapal menjadi vital sebagai sarana ketersambungan agar roda pertumbuhan ekonomi terus bertumbuh," kata dia.
        
Ironisnya, meski memiliki industri hulu, yakni baja, industri hilir di sektor manufaktur kapal masih belum tergarap dengan maksimal. "Vietnam tidak punya industri hulu tapi bisa memperkuat industri hilirnya," papar Budi.

Saat ini, salah satu manufaktur galangan kapal terbesar adalah PT PAL di Surabaya, yang juga milik pemerintah. Selebihnya, industri swasta menengah dan kecil. "Saat ini ada 250 galangan kapal yang terdaftar, sebanyak 65 ada di Batam," jelas dia.
 

Incar Kaltim

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (KS) Irvan Kamal Hakim menyatakan, pihaknya membidik pasar pelat kapal Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai upaya diversifikasi pendapatan. Pelat kapal bagian dari produk pelat baja yang diproduksi KS dengan kontribusi pendapatan sekitar 7% dari total pendapatan BUMN baja tersebut. Pada 2008, KS membukukan pendapatan sekitar Rp 19 triliun.
        
"Kaltim memiliki potensi cukup besar untuk konsumsi pelat kapal," papar Irvan, di sela seminar Penggunaan Pelat Kapal Produksi Nasional untuk Mendukung Pengembangan Manufaktur Kapal, di Samarinda, Selasa.
        
Pada kesempatan yang sama, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Kaltim Sulaiman Gafur menjelaskan, di wilayahnya terdapat sekitar 68 perusahaan galangan kapal menengah dan kecil.

Provinsi yang memiliki luas sungai dan lautan sebesar 1 juta hektare itu menghabiskan investasi Rp 27,3 miliar untuk pembangunan manufaktur galangan kapal.

Menurut Irvan, potensi pasar domestik untuk pelat kapal terus bertumbuh setiap tahun. KS terus menyebar pemasaran dengan membidik beberapa kawasan berdirinya galangan kapal. "Selain Kaltim, kami juga akan membidik beberapa daerah lain di antaranya Sulawesi, Jawa Tengah, dan Jawa Timur," papar dia.

Pelat kapal merupakan bagian dari produksi pelat baja. Secara nasional, konsumsi pelat baja per tahun mencapai satu juta ton. "KS menguasai sekitar 40% pasar pelat baja," jelas Irvan.

KS memasok sekitar 360 ribu ton, lalu Gunawan Dian Jaya (250 ribu ton), dan Gunung Raja Faksi (200 ribu ton). Selebihnya dipasok oleh produk impor. Dari satu juta ton konsumsi tersebut, sekitar 600 ribu ton diserap pasar Batam, selebihnya di daerah lain, termasuk Kaltim.


(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 3548 kali