23 Oktober 2009
Impor Baja Khusus Menurun Jadi US$ 1,5 M

JAKARTA: Impor baja khusus (special steel) pada tahun ini diperkirakan menurun 25% dibandingkan realisasi tahun lalu, dari US$ 2 miliar menjadi US$ 1,5 miliar. Penurunan nilai impor itu terjadi seiring melemahnya permintaan sektor pengguna, seperti otomotif, elektronik, perkapalan, dan pipa pengeboran minyak dan gas.

Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian (Depperin) Putu Suryawirawan menjelaskan, pada tahun lalu terjadi anomali impor baja khusus. "Nilai impor baja khusus pada tahun lalu naik drastis karena permintaan sektor pengguna melonjak," paparnya di Jakarta, Selasa (20/10).
      
Selain itu, lanjut dia, lonjakan nilai impor baja khusus pada tahun lalu sejalan dengan fluktuasi harga baja dunia yang menembus level tertinggi pada Agustus 2008 sebesar US$ 1.050/ton. Namun, sepanjang sepuluh bulan tahun ini, harga baja dunia hanya di kisaran US$ 400-600/ton. “Penjualan otomotif dan elektronik di dalam negeri juga turun pada tahun ini,” ucapnya.

Menurut dia, impor baja khusus selama ini diperkirakan mencapai dua sampai tiga juta ton per tahun. Baja khusus merupakan produk baja hilir yang tahan terhadap titik didih hingga 1.500 celcius dan tekanan tinggi yang berfungsi untuk melindungi instrumen pada produk manufaktur, seperti barang elektronik, otomotif, dan mesin-mesin berbasis logam.
   
Putu menerangkan, empat sektor manufaktur masih mengandalkan impor baja khusus karena tidak diproduksi di dalam negeri. Industri otomotif, elektronik, permesinan, dan pipa pengeboran minyak dan gas setiap tahun mengimpor baja khusus berupa carbon coated steel. “Itu berarti, Indonesia masih membutuhkan tambahan investasi di sektor baja khusus,” ucapnya.

Berdasarkan catatan Investor Daily, 26 perusahaan baja merealisasikan investasi dengan total Rp 3,3 triliun pada tahun ini. Namun, dari jumlah itu tidak ada memproduksi baja khusus. Sebagian besar investasi itu dilakukan untuk memproduksi baja kasar (billet), baja beton, steel bar, baja profil, besi batangan, serta mur baut.

Dari 26 perusahaan baja itu, tiga di antaranya merupakan penanaman modal asing (PMA) yang mengakuisisi produsen lokal. Ketiga PMA itu berasal dari Inggris, India, dan Tiongkok. PT Ispatindo, perusahaan afiliasi Arcelor Mittal, membeli seluruh saham produsen baja lokal PT Bukit Jaya Steel di Jawa Barat.

Sedangkan investor asal Inggris, Metro Concord International, mengakuisisi PT Inter World Steel yang berlokasi di Banten dan menambah kapasitas produksi perseroan senilai Rp 180 miliar. Investor asal Tiongkok mengakuisisi PT Budi Dharma Steel yang berlokasi di Tangerang dan mengubahnya namanya menjadi PT Indobaja Dayatama.

Menanggapi akuisisi itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari mengakui, sejumlah perusahaan baja lokal diakuisisi asing sepanjang dua tahun terakhir. “Penjualan saham ataupun akuisisi merupakan strategi bisnis korporasi. Dengan strategi itu, produsen lokal dapat memanfaatkan pembiayaan dari perbankan asing yang menetapkan suku bunga rendah,” katanya.

 
(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 5899 kali