01 Juni 2009
Target Proyek Migas KS Sudah Tercapai 50%

JAKARTA. Perusahaan produsen baja milik pemerintah PT Krakatau Steel (KS) sumringah. Di tengah keterpurukan krisis ekonomi global, pesanan baja di sektor minyak dan gas (migas) masih mengalir ke kantong mereka. Bahkan, belum genap enam bulan perusahaan sudah memperoleh proyek minyak gas (migas) sekitar US$ 250 juta. Jumlah ini merupakan separuh dari target perusahaan pada proyek migas di dalam negeri sebesar US$ 500 juta di tahun ini.

Target yang dipatok KS US$ 500 juta ini, dua kali lipat total nilai proyek yang biasa KS peroleh setiap tahunnya. Per tahun, KS biasanya hanya mengantongi US$ 120 juta. “Target kita pada tahun ini di Migas kira kira US$ 500 juta. Realisasi di semester pertama relatif sudah hampir separuh 40% hingga 50%. Kita berharap terpenuhi semua hingga akhir tahun,” kata Direktur Pemasaran PT KS Irvan Kamal Hakim, pekan lalu.

Perolehan KS pada proyek migas itu datang dari perusahaan di dalam maupun luar negeri. Hal ini lantaran, banyak proyek migas di dalam negeri yang tetap berjalan meski krisis tengah berlangsung.Selain itu, target optimis KS itu terdorong dengan penerbitan kebijakan pemerintah tentang Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN). Maklum, program ini mewajibkan semua proyek pemerintah yang mempergunakan APBN dan APBD wajib menyerap produk lokal. Sekedar informasi, selama ini sejumlah kontraktor migas memang telah menggunakan produk baja KS antara lain Medco, Pertamina, PGN, dan Chevron. Produk yang mereka pergunakan seperti pelat baja dan pipa.

Direktur Utama KS Fazwar Bujang mengakui, KS adalah salah satu perusahaan baja di dunia yang sangat merasakan dampak krisis ekonomi global. Namun, hingga kini KS tetap berupaya tak melakukan pengurangan pekerja. Seperti industri baja lokal lain, KS menerapkan efisiensi di internal perusahaan. Hal ini dimulai pada akhir tahun lalu perusahaan memanfaatkan pekerja melakukan over haul alias perawatan pabrik.

Langkah ini mengantisipasi tak terjadinya penghentian operasi pabrik setelah pesanan menurun. Selain itu, perusahaan juga meniadakan lembur, mengatur jam kerja, serta mengubah strategi pemasaran. “Kontak kerja ke outsourcing pun menurun. Tapi itu belum kategori lay off karena pekerja tetap KS masih dipertahankan tanpa ada PHK,” ujar Fazwar.

Dengan berbagai upaya itu, Fazwar optimis KS masih mampu membukukan laba pada tahun ini. Sebab, upaya perusahaan bakal mampu menahan kondisi perusahaan tetap stabil hingga menunggu dampak krisis ekonomi global mulai membaik. Di mana, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi pada akhir Mei ini serta pemulihan kondisi kelebihan stok perseroan diperkirakan bakal memperbaiki kinerja keuangan perusahaan pelat merah itu.

(Sumber: Kontan Online)

 Dilihat : 3689 kali