06 Mei 2009
KS Kantongi Penjualan Baja US$ 100 Juta

JAKARTA: Penjualan produsen baja nasional PT Krakatau Steel (KS) hingga empat bulan pertama 2009 mencapai US$ 100 juta. Direktur Utama KS Fawzar Bujang mengatakan, pencapaian tersebut diperoleh dari kontrak untuk proyek-proyek pipanisasi dan konstruksi dalam negeri.

Penjualan baja itu antara lain untuk proyek Pertamina di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, senilai US$ 40 juta dan proyek pabrik pupuk di Gresik. "Kalau dikumpulkan dengan yang di Gresik yaitu pabrik pupuk, total ada US$ 100 juta," kata Fawzar di Jakarta, Selasa (5/5).

Sebelumnya, BUMN produsen baja itu, menargetkan penjualan hasil produksi tahun ini hanya Rp 15,8 triliun, menyusul kondisi ekonomi global yang berat untuk industri manufaktur. Target itu lebih rendah dibandingkan penjualan 2008 yang mencapai Rp 19 triliun.

Komisaris Utama KS Taufiqurahman Ruki menjelaskan, nantinya penjualan KS diutamakan pada penjualan produk jenis baja yang diperlukan pada proyek infrastruktur pemerintah dan swasta. "Tahun 2008, PT KS membukukan keuntungan Rp 462,5 miliar unaudited, lebih tinggi 6% dari anggaran 2008 dan 47% lebih tinggi dari target 2008," kata Taufiq, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, kata Fazwar, saat ini, KS mengikuti proses tender untuk proyek-proyek Pertamina di Balikpapan senilai US$ 70 juta.

Di sisi lain, dia mengatakan, penjualan kuartal pertama diprediksi berkurang. "Apalagi Januari-Februari, lagi parah-parahnya. Tapi, Maret sudah lumayan. Secara volume sekitar 300-320 ribu ton," ungkap Fawzar.


Produk Domestik

Terkait program Peningkatan Penggunaan Produk dalam negeri (P3DN), Fawzar mengatakan, pihaknya tidak menargetkan jumlah khusus terhadap program tersebut. Namun, lanjut dia, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan penggunaan produl lokal termasuk dari baja lokal.

Selain itu, Fawzar mengatakan, pihaknya berencana meminta subsidi untuk industri baja di Indonesia. Menurut dia, industri baja nasional belum memperoleh insentif langsung. "Kita belum mengajukan karena masih mencari formulasi yang tepat agar lebih efektif. Soal formulasinya, nanti. Kami berencana, akhir bulan, sudah mengajukan subsidi tersebut ke pemerintah," ujar Fawzar.

Fazwar sebelumnya menuturkan, selain proyek pemerintah, KS mengincar proyek migas dari perusahaan asing, seperti Cinox dan Premier Oil.

Di sisi lain, TKDN industri baja dalam negeri masih rendah, sekitar 29% untuk produk hulu (besi sponge) dan 47-50% untuk produk hilir (pelat baja). Selain itu, industri baja nasional belum mampu memproduksi pipa baja khusus untuk proyek pengeboran migas berupa green pipe dengan kemampuan khusus temperatur di bawah (minus) 20 derajat celcius.

Berdasarkan hasil audit surveyor independen pada 2008, TKDN industri baja dalam negeri rendah mengingat bahan baku baja berupa bijih besi masih diimpor.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 2850 kali