29 April 2009
Depperin Gelar Penyelidikan SNI Tabung Gas

JAKARTA. Pemerintah bergerak cepat. Mendengar ada tabung gas yang tak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), Departemen Perindustrian (Depperin) langsung menggelar penyidikan.

"Saat ini, kami berkoordinasi dengan asosiasi untuk mengecek kebenaran isu tersebut," kata Ansari Bukhari, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Depperin, Senin (27/4).

Depperin mengaku kaget dengan kenyataan ini. Pasalnya, kata Ansari, pemerintah mengawasi produsen sejak proses produksi. "Secara teori harusnya tak ada. Sistem pengawasan produksinya jelas dan kami lakukan secara ketat," imbuhnya.

Ansari memastikan pemerintah akan menindak tegas produsen tabung gas yang main nakal. "Kalau tabung tak sesuai standar itu sudah kami temukan, nama produsennya akan cepat diketahui," katanya.

Sekadar mengingatkan, Pemerintah mewajibkan produsen membeli bahan baku tabung gas, yakni SG 295 dari PT Krakatau Steel. Sementara untuk impor, hanya PT Pertamina yang diizinkan mengimpor 6 juta tabung gas. Kebijakan ini menutup peluang produsen membeli bahan baku selain dari Krakatau Steel.

Maka itu, sejak dini, Asosiasi Tabung Gas (Asitab) mengelak jika dikaitkan dengan tabung yang tak sesuai standar.

Ketua Asitab Tjiptadi memaparkan, anggotanya terikat dengan Permenperin No 128/2008. Beleid ini mewajibkan produsen tabung untuk menyerap bahan baku lokal. "Krakatau Steel menunjuk Sucofindo untuk mengawasi penggunaan bahan baku produksi tabung gas," kata Tjiptadi.

Produsen tabung gas Elpiji dituding menggunakan bahan baku impor dari China dan Korea. Bahan baku yang mereka pakai adalah baja lunak berkualitas rendah (SPHC). Selisih harga antara baja China dan Korea dengan baja produksi Krakatau Steel, agaknya membuat produsen tabung nekat mengeruk untung lewat jalan belakang.

(Sumber: Kontan Online)

 Dilihat : 3427 kali