13 April 2009
Utilisasi Pabrik Paku dan Kawat Naik 10%

JAKARTA. Produsen paku dan kawat domestik sumringah. Keputusan pemerintah untuk menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan tentang kenaikan Bea Masuk (BM) produk paku dan kawat impor menjadi 12,5% membuahkan hasil. Utilisasi atau tingkat pemanfaatan kapasitas produksi pabrik para produsen paku dan kawat lokal naik dari 30% menjadi 40%, atau meningkat sebesar 10%.

Saat ini, total kapasitas produksi paku dan kawat domestik mencapai 25.000 ton per bulan. Dengan utilisasi sebesar 40% maka produksi paku dan kawat lokal tercatat sebanyak 10.000 ton per bulan. Kenaikan utilisasi terjadi hanya berselang satu bulan sejak pemberlakuan kenaikan BM yang ditetapkan per 1 Maret 2009.

Kenaikan BM juga memicu harga paku dan kawat di pasar domestik stabil di kisaran Rp 7.000 per kilogram (kg). "Jumlah penjualan juga naik seiring dengan kenaikan produksi," kata Ketua Kluster Paku dan Kawat Indonesian Iron and Steel Organisation (IISIA) Ario Setiantoro, pekan lalu (11/4).

Asal tahu saja, sebelum kenaikan BM, produsen lokal kalah bersaing dengan produk impor terutama dari China. Bahkan desakan produk impor menyusutkan produsen paku dan kawat lokal dari 30 perusahaan menjadi 25 perusahaan dengan rata-rata produksi per perusahaan sebesar 500 hingga 1.000 ton per bulan.

Sebenarnya, tanpa produk impor, hasil produksi lokal sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Ini dapat terlihat dari utilisasi pabrik yang baru mencapai prosentase 40%. Produsen mematok utilisasi sebesar itu sejalan dengan permintaan dari pasar lokal. Selain itu, produsen memastikan kualitas produk lokal mampu bersaing secara ketat dengan produk impor.

"Peluang usaha kami semakin terbuka lebih besar dengan maraknya pembangunan rusunawa, perumahan. Asalkan pemerintah konsisten membantu usaha kami dan sektor properti nasional, kami juga ikut terdorong terbantu," kata Ario.

Dukungan lain yang diminta produsen lokal adalah upaya pemerintah untuk terus menurunkan tingkat suku bunga perbankan. Sehingga, kinerja usaha properti di dalam negeri semakin membaik. Dampaknya tentu bakal terasa dalam bentuk kenaikan penjualan paku dan kawat dari produsen lokal.

Selain kenaikan BM, produk lokal makin mudah bersaing dengan produk impor setelah nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar. Hal ini membuat harga paku impor menjadi lebih mahal. Dulu, produk impor selalu dijual dengan harga di bawah harga produk lokal.

Deputi Menkoperekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady mengatakan, keputusan pemerintah untuk menaikkan BM beberapa produk yang tertuang dalam harmonisasi tarif masih diperbolehkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Contohnya, sektor industri baja seperti paku dan kawat. BM di sektor ini masih diperbolehkan hingga 40%. “Proteksi ada yang dibolehkan karena memang hak kita untuk melindungi kepentingan nasional, konsumen dan kesehatan. Itu hak kita di WTO kemudian untuk melindungi kepentingan dari perbuatan curang, ilegal,” kata Eddy.

Meski begitu, Ario mengaku masih ada ganjalan lain saat ini yang dirasakan para produsen paku dan lokal berskala menengah dan kecil. Mereka merasakan terjadi persaingan harga yang kurang sehat antara produsen hulu hilir dengan produsen hilir saja untuk produk paku dan kawat. "Produsen paku yang juga mempunyai pabrik bahan baku wire rod dapat menjual harga di bawah harga produsen yang memang fokus memproduksi paku saja, sementara bahan bakunya harus mereka peroleh dari luar," katanya.

(Sumber: Kontan Online)

 Dilihat : 5271 kali