07 April 2009
HARI INI DIRESMIKAN WAPRES, Pabrik Baru KS Telan Investasi Rp 950 M

BATULICIN: Pabrik baru PT Krakatau Steel (PT KS) di Batulicin, Kalimantan Selatan (Kalsel), bakal beroperasi komersial pada Mei 2011. Pabrik yang menyerap investasi sekitar Rp 950 miliar itu, mampu memproduksi 315.000 ton besi spons per tahun. "Sumber pembiayaannya 35% ekuitas dan 65% pinjaman dari BRI," tutur Fazwar Bujang, direktur utama PT KS, di Batulicin, Kalsel, Senin (6/4).

Menurut dia, investasi tersebut meliputi Rp 707 miliar untuk pembangunan pabrik, biaya interest during construction Rp 110 miliar, dan working capital Rp 132 miliar. Besi spons adalah bahan baku untuk memproduksi baja. "Pabrik baru ini mempunyai desain kapasitas dan teknologi iron making rotary kiln," papar Fazwar.

Bahan baku diambil dari daerah sekitar pabrik, yakni berupa batubara sebagai reduktor untuk menghasilkan besi spons. "Hotgas dari hasil proses dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik 28 mega watt," jelas dia. Ia menambahkan, pemancangan tiang pertama pembangunan pabrik tersebut akan diresmikan Wapres Jusuf Kalla, hari ini (Selasa, 7/4).

Menurut Fazwar, pembangunan pabrik akan rampung Desember 2010. "Sedangkan hot and cold test Januari-Februari 2009, lalu performance test Maret-April 2009," jelas dia.

Pembangunan pabrik besi spons tersebut dilaksanakan oleh PT Meratus Jaya Iron & Steel (MJIS) yang merupakan joint venture PT KS dengan PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Komposisi kepemilikan terdiri atas 61% PT KS, 30,3% PT Antam, dan Pemprov Kalsel sebanyak 8,7%. "Pemprov ikut dengan mengonversi nilai tanah lokasi pabrik," tutur dirut KS itu.

Penyertaan Pemprov Kalsel berupa lahan 200 hektare (ha). "Tahap pertama 30 hektare," kata dia.

Fazwar menjelaskan, muatan lokal proyek tersebut mencapai sekitar 40%, sedangkan tenaga kerja yang terserap sekitar 170 orang.

Ke depannya, lanjut dia, pabrik ini direncanakan juga memproduksi besi beton. "Terintegrasi seperti milik Krakatau Steel di Cilegon," katanya. Hanya saja, investasinya cukup besar yakni sekitar US$ 2,5 miliar.


Bahan Baku

Fazwar menjelaskan, operasional pabrik baru mereka semula mengalami dua kendala. Pertama, kadar besi yang ada di sekitar sumber bahan baku, umumnya rendah. "Namun, kini sudah tidak lagi dengan cara pemilihan teknologi yang tepat," kata dia.

Kendala kedua, jelasnya, soal kepastian jumlah cadangan. "Sampai saat ini belum ada data yang valid mengenai jumlah cadangan bijih besi yang mampu ditambang," ujar Fazwar.

Menurut dia, hingga kini belum bisa dilakukan penambangan karena area-area yang prospektif telah dimiliki oleh pemegang kuasa pertambangan (KP). "Untuk itu, kami akan menggandeng pemda dan pemilik kuasa pertambangan agar bijih besinya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan nasional," kata Fazwar.

Bahan baku dibeli dari produsen lain pemilik KP. Menurut Anwar Ibrahim, dirut PT Meratus Jaya Iron & Steel (MJIS), kontrak pembelian bahan baku selama 15 tahun. "Harga dievaluasi setiap tahun," papar Anwar.
 
(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 3100 kali