03 April 2009
UTILISASI PRODUSEN LOKAL 42%, Impor Baja Tembus US$ 1,08 Miliar

JAKARTA: Impor baja sepanjang Januari-Februari 2009 menembus US$ 1,08 miliar. Nilai itu menurun 39,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni US$ 1,79 miliar.

Meski terjadi penurunan, nilai impor yang besar itu terus menggerus tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) produsen baja lokal. Terbukti, tahun lalu utilisasi pabrik baja domestik hanya 42%.
          
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor besi dan baja (nomor HS 72) pada dua bulan pertama 2009 mencapai US$ 556,6 juta. Sedangkan impor barang dari besi dan baja (nomor HS 73) sebesarUS$ 527,1 juta. Dengan demikian total impor baja pada dua bulan pertama tahun ini US$ 1,08 miliar.
          
Sedangkan pada dua bulan 2008, impor besi dan baja (nomor HS 72) mencapai US$ 1,29 miliar. Nilai impor barang dari besi dan baja (nomor HS 73) sebesar US$ 504,2 juta. Total impor baja pada dua bulan 2008 mencapai US$ 1,79 miliar.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidajat Triseputro kepada Investor Daily menerangkan, kinerja industri baja nasional pada dua bulan pertama 2009 mulai membaik. "Kelebihan stok yang dialami pada kuartal IV 2008 mulai berkurang," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4).

Namun, dia mengakui, impor baja masih tetap tinggi. Terlebih lagi, pemerintah menunda verifikasi impor baja yang mestinya diwajibkan mulai 1 April 2009. Dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 8/2/2009, pemerintah mewajibkan pengetatan impor baja berupa pendaftaran importir produsen (IP) dan importir terdaftar (IT) serta verifikasi di pelabuhan muat. "Penundaan itu yang menyebabkan nilai impor tetap tinggi," ucapnya.

Dengan kondisi itu, utilisasi pabrik baja lokal masih rendah atau rata-rata hanya 42%. Berdasarkan data Departemen Perindustrian (Depperin), pada tahun lalu utilisasi industri baja lapis seng (BjLS) menjadi yang terendah, yakni 28%. Sedangkan utilisasi industri pelat baja menjadi yang tertinggi, yakni 90,7%.

Permintaan

Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menilai, kelebihan stok yang dialami produsen baja nasional akibat penurunan permintaan pada kuartal IV 2008 mulai berkurang. Pada saat itu, permintaan baja dalam negeri menurun tajam menyusul anjloknya harga komoditas tersebut di pasar dunia dari titik tertinggi di atas US$ 1.050/ton menjadi US$ 600/ton. “Saat ini harga baja di pasar internasional mulai stabil,” ucapnya.

Di Tiongkok, harga baja dunia khususnya baja canai panas diperdagangkan di level US$ 554/ton pada akhir Februari 2009. Harga itu sudah menyamai level pada Desember 2008.

Sebelumnya, pemerintah memutuskan untuk menunda penerapan verifikasi impor baja pada 1 April menjadi 30 April 2009. Penundaan itu dilakukan mengingat sampai saat ini pemerintah belum menetapkan lembaga surveyor independen untuk impor baja.

Dari 1.000 nomor HS (harmonize system) produk baja, lanjut dia, 203 di antaranya diatur melalui Permendag No 8/2/2009. "Aturan tersebut ditujukan untuk mendata dan mengendalikan impor baja sehingga peredaran produk ilegal bisa ditekan," kata Ansari.
              
Dari data sementara Depperin, sekitar 200 perusahaan baja lokal telah mengajukan diri untuk mendapat status IP/IT. "Sekitar 100 perusahaan sudah mendapat persetujuan teknis," paparnya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 4239 kali