17 Maret 2009
Asing Akuisisi 8 Perusahaan Baja Lokal

JAKARTA: Dalam dua tahun terakhir, delapan perusahaan baja lokal dikuasai asing. Akuisisi ataupun penjualan saham ke asing dilakukan perusahaan baja lokal sebagai strategi bertahan menyusul penurunan penjualan domestik yang memicu pemangkasan tingkat kapasitas terpasang (utilisasi).

Terlebih lagi, sejak kuartal IV 2008 akibat imbas krisis global serta fluktuasi harga minyak dunia, kinerja produksi industri baja nasional menurun tajam. Produksi pabrik baja di dalam negeri terpaksa diturunkan hingga 50% menyusul pelemahan daya beli domestik serta kejatuhan harga produk itu di pasar dunia dari titik tertinggi US$ 1.200/ton pada Agustus 2008.
           
Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diolah Departemen Perindustrian (Depperin) menunjukkan, dengan akuisisi ataupun penjualan saham ke asing, kedelapan perusahaan baja lokal itu telah beralih status dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) menjadi penanaman modal asing (PMA).

Kedelapan perusahaan itu adalah PT Gunung Garuda, PT Sanex Steel Indonesia, PT Jatim Taman Steel, PT Oerlikon Balzers Artoda Indonesia, PT Gunung Gahapi Sakti, PT Gunung Gahapi Bahara, PT Gunung Rajapaksi, dan PT Seamless Pipe Indonesia Jaya (SPIJ).
           
Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidayat Triseputro menerangkan, strategi penjualan saham ke asing merupakan langkah wajar dalam menghadapi pelemahan daya beli akibat dampak krisis global. "Setiap perusahaan tentu memiliki strategi masing-masing, apakah itu dengan penjualan saham atau diakuisisi asing," paparnya kepada Investor Daily, di Jakarta, Senin (16/3).
           
Menurut dia, dengan kondisi penurunan penjualan sejak kuartal terakhir 2008, perusahaan baja lokal akan menerapkan strategi konsolidasi internal. "Penurunan penjualan itu masih akan terasa pada kuartal I 2009 mengingat proyek infrastruktur belum berjalan dan stimulus pemerintah tidak kunjung cair," tuturnya.
           
Berdasarkan data Depperin, PT Gunung Garuda - salah satu produsen baja terbesar di Indonesia - mengalihkan status ke PMA setelah mendapat persetujuan dari BKPM dengan nomor izin 95/V/PMA/2008 tertanggal 19 Mei 2008. PT Gunung Garuda bersama dengan tiga anak usaha Gunung Garuda Group lainnya, yakni PT Gunung Gahapi Sakti (GCS), PT Gunung Gahapi Bahara, dan PT Gunung Rajapaksi diakuisisi tiga investor Singapura sekitar Rp 1 triliun.

Tiga investor asal Singapura itu adalah Metal Asia Group, Austin Investment Group dan Orienstar Pte Ltd. Metal Asia Group mengambil alih 100% saham pabrik pengolahan baja di Sumatera Utara milik PT Gunung Gahapi Sakti (GCS), senilai Rp 221,75 miliar. Austin Investment Group mengakuisisi 100% saham PT Gunung Gahapi Bahara senilai Rp 150 miliar. Sedangkan Orientstar Pte Ltd mengakuisisi 100% saham PT Gunung Rajapaksi senilai Rp 341,03 miliar.
        
Namun, Direktur Pemasaran Gunung Garuda Group Sujono enggan menerangkan hal itu lebih rinci. "Tanya ke IISIA saja ya," ucapnya singkat.
           
Sebelumnya, Tenaris SA, salah satu perusahaan manufaktur pipa baja terbesar di dunia, mengakuisisi 77,45% saham PT Seamless Pipe Indonesia Jaya (SPIJ) dari PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Green Pipe International Ltd, dan PT Cakrawala Baru. Nilai transaksi pembelian saham milik Grup Bakrie itu sebesar US$ 73,5 juta (Rp 882 miliar).

Jangka Panjang
           
CEO Tenaris Paolo Rocca dalam keterangan tertulisnya yang diperoleh Investor Daily menerangkan, investasi Tenaris di Indonesia untuk mengonsolidasikan operasional perusahaan dalam jangka panjang sebagai pemain utama di bisnis pipa besi dan baja.
           
Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Depperin, Ansari Bukhari menerangkan, akuisisi dan penjualan saham perusahaan baja lokal ke asing merupakan hal normal. "Itu strategi bisnis," paparnya.
           
Pada tahun lalu, lanjut dia, utilisasi industri baja nasional rata-rata nasional mencapai 41,8% mengingat fluktuasi harga yang tajam di pasar internasional. "Utilisasi industri baja terendah pada tahun lalu di sektor pelat baja (plate) yang hanya 28,4% dari empat produsen lokal," paparnya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 4450 kali