06 November 2007
Baja Impor dari India Diduga Dumping

JAKARTA (Suara Karya): Departemen Perindustrian (Depperin) menduga produk baja canai panas (hot rollwd coils/HRC) yang diekspor Essar Steel' Ltd perusahaan baja India ke Indonesia terindikasi dumping. HRC yang dumping tersebut membuat harga produk baja canai dingin (cold rolled coils/ CRC) yang beredar di pasar domestik lebih rendah dari harga rata-rata di pasar.

Dugaan dumping tersebut dibuktikan dengan "terpangkasnya margin keuntungan industri pengolah CRC dalam negeri yang. Jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mengancam keberlangsungan industri baja di dalam negeri.
'
Direktur Industri Logam Ditjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin I Putu Suryawirawan mengungkapkan, berdasarkan data yang diperoleh dari PT Krakatau Steel (KS), meski tak menyebut angka pasti, Essar Steel mengekspor HRC dengan harga lebih rendah dari ketentuan yang berlaku pada 2005.

"Kalau harga di dalam negeri misalnya 500 dolar AS per ton, dia (Essar) menjualnya dengan harga di bawah itu. Bisa 400 dolar AS atau 450 dolar AS per ton. Dan' masalah ini di. duga terjadi pada 2005 dan telah dilaporkan pada 2006," kata Putu, di Jakarta, kemarin.

HRC yang masuk ke pasar domestik tersebut, menurut Putu, selanjutnya diolah PT Essar Indonesia untuk memproduksi CRC. Dengan plafon harga yang rendah tersebut, produk CRC PT Essar lebih mudah diterima pasar ketimbang produksi KS dan industri nasional lainnya. "Bisa saja harga (HRC) yang rendah itu diberikan Essar India untuk anak usahanya di, Indonesia. Makanya hal-hal ' semacam ini perlu diselidiki lebih lanjut," ujar dia.

Saat dikonfirmasi tentang kebenaran data dumping oleh KS tersebut, Dirut KS Daenulhay menjelaskan, KS telah menyerahkan semua data dumping tersebut kepada Komite Anti Dumping Indonesia (KADI). "Jadi kita tunggu saja perkembangan investigasi yang dilakukan KADf," kata Daenulhay.

Secara terpisah, Ketua KADI Halida Miljani membenarkan tentang Essar Steel yang tengah diselidiki terkait dugaan dumping. "Dia termasuk yang dituduh, tapi buka'. Essar Indonesia, tepatnya tapi Essar yang di India," kata Halida.

Menurut dia, ada lima negara lagi yang diselidiki KADI terkait dugaan dumping di industri baja nasional. Kelima negara tersebut meliputi China, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Rusia. "Jumlah perusahaannya lebih dari lima. KADI bergerak berdasarkan laporan yang diperoleh dari KS," tuturnya.
Depperin sendiri memperkirakan,sekitar 580.000 ton dari total impor 900.000 ton HRC pada 2005 diperkirakan dumping. Meski jumlah itu masih tergolong kecil dibandingkan total impor HRC/CRC yang mencapai 2 juta ton per tahun, baja impor dengan harga dumping itu telah merusak pasar dalam negeri. "Saat ini, tim (tim investigator) masih berada di luar negeri untuk meminta data dari beberapa perusahaan yang dituduh. Pada prinsipnya, kami mempercayai data tersebut. Tapi, kami harus memverifikasinya lagi melalui pembukuannya sertadatadata lain yang diperlukan. Kalau meragukan, maka kami akan memverifikasi lagi," ujar dia.

KADI sendiri berjanji akan menuntaskan proses investigasi dan melaporkannya kepada Departemen Perdagangan paling lambat pada 27 Desember 2007. Sebab, petisi tersebut telah diajukan produsen sejak 28 Juni 2006. Kalau " data yang disodorkan KS tidak mendukung, maka pemerintah tidak bisa mengenakan sanksi berupa bea masuk anti dumping.
[Andrian)

Sumber : Suara Karya

 

 Dilihat : 2987 kali