25 November 2008
Tata Steel Tunda Investasi Pabrik Bijih Besi US$500 juta

JAKARTA - Tata Steel, produsen baja terbesar kelima di dunia, dipastikan menunda investasinya di Kalimantan Selatan senilai US$500 juta. Bahkan apabila resesi ekonomi global terus berlanjut rencana investasi itu kemungkinan akan dibatalkan.

Semula Tata Steel berencana membangun pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 1 juta ton di Kalimantan Selatan mulai akhir tahun ini menyusul proyeksi pertumbuhan konsumsi baja dunia yang mencapai 5%-7% per tahun.

Namun saat ini, Tata Group-perusahaan induk Tata Steel-justru mulai mengurangi ekspansi global termasuk memangkas rencana akuisisi perusahaan-perusahaan baja di luar India.

Dari India, BBC News baru-baru ini (13 November) melaporkan Chief Executive Officer Tata Group Ratan Tata telah meminta 96 perusahaan di bawah bendera Tata Group, termasuk Tata Steel, untuk menunda seluruh rencana ekspansi. Ratan juga menginstruksikan seluruh perusahaan Tata Group agar melakukan penghematan dan memangkas pengeluaran.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengakui seluruh industri baja di dunia sedang mengkaji ulang rencana investasi mereka. "Semua owner pabrik baja saat ini sudah menginstruksikan penghematan besar-besaran mengingat kejatuhan harga baja dan kelesuan pasar karena terimbas krisis ekonomi global," ujarnya ketika dikonfirmasi, kemarin.

Minta Dukungan

Ansari menerangkan perwakilan manajemen Tata Steel pada awal November sempat datang ke Depperin untuk meminta dukungan dalam kunjungannya ke Kalsel dalam rangka prastudi kelayakan awal (feasibility study). "Namun, sampai saat ini belum ada follow-up lagi dari manajemen Tata. Padahal, studi awal atas proyek pabrik Tata Steel di Kalsel akan dimulai Desember 2008," ujarnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, pada Mei 2008 Tata Steel berencana mengakuisisi saham BUMN baja PT Krakatau Steel (KS) dengan pola strategic sales yang saat itu akan diprivatisasi. Namun, upaya Tata mengakuisisi KS temyata gagal menyusul keputusan pemerintah Indonesia yang memilih privatisasi KS melalui skema penawaran saham perdana (initial public offering/IPO).

Setelah gagal mengakuisisi KS, Tata Steel Kemudian mengalihkan fokus investasi ke Vietnam dengan pola yang sama untuk membangun pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 4 juta ton.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 4185 kali