20 November 2008
Produsen Minta BM Safeguard Dikenakan 100%

JAKARTA - Produsen kawat baja dan paku nasional meminta pemerintah menerapkan bea masuk (BM) tambahan berupa pengamanan perdagangan (safeguard) dari tiga negara, yaitu Tiongkok, Malaysia, dan Taiwan, hingga 100%. Sebab, produk impor sudah menggerus pasar industri lokal dan menyebabkan tujuh perusahaan sejenis di dalam negeri tutup.

"Serbuan produk impor itu sudah menggerogoti pangsa pasar produsen di dalam negeri. Industri-industri yang kurang efesien sudah mati duluan, makanya kami memang berharap banyak untuk dikenakan BM safeguard, kalau bisa ya 100%," kata Ketua Klaster Kawat dan Paku Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesia Iron and Steel Industry Asociation/IISIA) Ario Setiantono di Jakarta, Rabu (19/11).

Dia menjelaskan, impor kawat baja dan paku dari tiganegara tersebut melonjak cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir dan menyebabkan kerugian serius terhadap industri sejenis di dalam negeri. Pada 2007, volume impor produk kawat dan paku tercatat sebesar 10 ribu ton dan periode Januari-Juni 2008 nilai impor melonjak mencapai 15 ribu ton.

"Penurunan pangsa pasar sudah terlihat dari 2005 dan satu per satu industri lokal tumbang. Selama periode 2005-2007 sudah terdapat tujuh perusahaan yang tutup. Hanya perusahaan yang memiliki daya tahan bagus yang masih bisa bertahan," kata dia.

Menurut dia serbuan produk impor itu juga memangkas produksi pabrik kawat baja dan paku di dalam negeri rata-rata 30%. Paku impor mendistorsi pasar lokal karena harganya yang sangat murah. Harga paku impor rata-rata Rp 11.800-12.700/kg. Sedangkan harga paku produksi lokalsudah mencapai Rp 14.000/kg.

"Ini merupakan akibat dari disharmonisasi tarif. Bahan baku di hulu dikenakan BM sebesar 10%, tapi produk hilirnya hanya 7,5%. Seharusnya, produk hilir dikenakan tarif BM yang lebih tinggi dibandingkan produk hulu," jelasnya.

Selain pengenaan BM safeguard yang tinggi, pengusaha mengharapkan pemerintah membatasi impor dua produk tersebut melalui mekanisme kuota. "Target kami sementara ini adalah mendapatkan perlindungan dengan menerapkan BM yang tinggi sesuai dengan kerugian yang dialami. Kalau pemerintah bisa menerapkan kuota, itu akan lebih baik lagi," tambahnya.

Menanggapi keluhan pengusaha tersebut, Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) telah mengajukan inisiasi penyelidikan secara resmi terhadap lonjakan impor kawat baja dan paku. Inisiasi resmi tersebut dilakukan KADI pada Selasa 18 November 2008.

"Kami sudah mengirimkan surat pemberitahuan bahwa KPPI memulai penyelidikan untuk safeguard kawat baja dan paku kepada negara-negara pemasok utama Indonesia," kata Ketua KPPI Halida Miljani.

Dia mengatakan, penyelidikan safeguard tersebut dilakukan terhadap impor kawat baja dan paku dari semua negara. "Safeguard kan mengakibatkan impor dari semua negara akan dibatasi, kecuali impor dari negara berkembang yang pangsa pasarnya kurang dari 3%. Ini harus dilakukan karena sudah ada pabrik dalam negeri yang tutup akibat serbuan produk impor tersebut," katanya.

Namun, lanjut dia, terdapat tiga negara yang mendominasi pasar impor kawat baja dan paku di pasar domestik, yaitu Tiongkok, Taiwan, dan Malaysia.

(Sumber: Investor Daily indonesia)

 Dilihat : 3619 kali