05 November 2007
Produksi Seng Baja Anjlok 30%

JAKARTA: Kinerja produksi di industri seng baja (baja lapis seng/BjLS) pada kuartal ID/2007 anjlok 30%, menyusul pelemahan daya beli konsumen akibat efek kenaikan harga BBM, pemberlakuan bea masuk (BM) HRC, dan kian membanjirnya produk-produk BjLS di bawah 2
milimeter.

Data yang dirilis Gabungan Pabrik Seng Indonesia (Gapsi) menyebutkan, produksi seng baja ukuran 2 mm pada kuartal III/2007 menjadi 77.000 ton dibandingkan periode sama tahun lalu yang masih mencapai 110.000 ton.

Ketua Umum Gapsi Ruddy Syamsuddin memperkirakan, penurunan ini masih akan berlanjut pada kuartal IV/2007 dengan total penjualan paling tinggi 80.000 ton. Pada kuartal IV/2006 konsumsinya tercatat 85.000 ton.

Menurut dia, total produksi BjLS hingga akhir tahun diperkirakan hanya akan mencapai 394.455 ton, atau 34,3% dari total kapasitas terpasang nasional yang mencapai 1,15 juta ton.

Realisasi produksi pada 2007 itu, jauh lebih buruk dibandingkan pada tahun sebelumnya yang masih mencapai sekitar 410.000 ton.

Kegiatan produksi BjLS di dalam negeri yang dinilainya kian parah ini dikhawatirkan akan berdampak pada penutupan 80% dari total 16 perusahaan seng baja domestik yang kini eksis. Kerapuhan industri seng baja nasional, papar dia, dipicu daya beli konsumen yang terus melemah seiring kenaikan harga minyak dunia, harga bahan baku yang mahal sehingga tak sebanding dengan kemampuan industri.

"Selain itu, regulasi yang tidak sinkron dan tidak tegas, serta penegakan hukum yang setengah hati. Sampai sekarang, persoalan klasik ini tetap saja masih berlangsung. Dan saya tak bosan-bosannya menyampaikan hal ini kepada pemerintah agar mereka mau mendengarkan," kata Ruddy kepada Bisnis, kemarin.

Harga melambung Pukulan berat berupa kenaikan harga BBM industri membuat harga seng baja berukuran 2 mm semakin melambung di atas Rp24.500 per lembar. Pada saat yang sama, pasar dibanjiri produk-produk seng di bawah standar yang lebih murah dengan ketebalan hanya 0,17 mm.

"Dengan daya beli yang rendah, produk seng nonstandar menjadi primadona. Ini membuktikan bahwa aturan standardisasi di Indonesia tidak berjalan baik dan penegakan hukum kita masih tidak tegas."

Dia mengatakan kebijakan penghapusan bea masuk produk baja canai panas (HRC/hot rolled coils) yang ditetapkan Depkeu terhitung sejak 7 Agustus 2007, mulai memicu terjadinya monopoli bahan baku di pasar seng nasional, terutama oleh PT Essar Indonesia sehingga mengancam eksistensi 16 produsen seng domestik.
"Kami sudah melaporkan kasus ini ke KPPU [Komite Pengawas Persaingan Usaha]," katanya. (yusuf.waluyo@ bisnis.co.id)
Oleh Yusuf Waluyo Jati Bisnis Indonesia

Sumber : Media Indonesia

 Dilihat : 3100 kali