20 November 2008
Industri Strategis RI Harus Segera Bangkit

PELUANG mendatangkan alat tempur buatan asing untuk memperkuat TNI kian menipis dihantam badai krisis global. Industri strategis domestik pun diharapkan segera bangkit dari tidur.

Keinginan untuk memperkuat industri pertahanan dalam negeri disampaikan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, kemarin, dalam pidatonya saat membuka pameran persenjataan Indo Defence Indo Aerospace Expo di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

"Kita semua menyadari bahwa hari-hari ini adalah hari yang kurang menyenangkan menyusul (kondisi) ekonomi dunia. Tapi dalam situasi yang tidak menguntungkan ini, kita selalu siap siaga menjalankan peran," katanya.

Pasalnya dalam situasi apa pun, Wapres mengingatkan, kesiapan alat perang menjadi hal yang penting. Kendati begitu, Wapres mengatakan, antara pembangunan industri strategis dalam negeri dan penjalinan kerja sama dengan pihak asing harus tetap berjalan seiring.

"Tidak ada yang mampu melakukan sendiri. Oleh karena itu, kita selalu menyiapkan kerja sama. Semua negara selalu membutuhkan kerja sama. Pameran ini sangat penting untuk mengetahui perkembangan dan kemajuan (industri) masing-masing," tuturnya.

Pameran persenjataan yang digelar secara rutin dalam kurun dua tahunan itu dimulai kemarin hingga 22 November 2008. Kali ini pameran diikuti 377 perusahaan persenjataan dari 37 negara.

Ke-377 peserta itu antara lain Sukhoi, Brahmos, Bumar, Ultra TCS, Kazan Helicopters, Wahgo International Corporation, SAS International, Lundin, Aviator, Rosoboronexport, Bel, Amadani, Helizona, Trijicon, Kawan Lama, Victorinox, dan North Sea Boats.

BUMNIS yang ikut serta antara lain PT PAL, PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT LEN, PT Krakatau Steel, PT Inka, PT Dok, dan Perkapalan Kodja Bahari, PT Barata Indonesia, dan PT Dahana.

Pernyataan senada diungkapkan Menteri Pertahanan (Menhan) Juwono Sudarsono. Menhan mengaku sangat berharap agar pameran tersebut mampu memacu perkembangan industri strategis nasional.

"Selain memberikan manfaat bagi pengadaan alat utama sistem senjata TNI dari dalam negeri, ini diharapkan mampu menggairahkan sektor riil, seperti perangkat elektronik dan perlengkapan lainnya," katanya.

Menhan juga menuturkan jika industri persenjataan domestik mampu mendukung seluruh kebutuhan TNI, penghematan yang dilakukan bisa mencapai US$300 juta-US$400 juta. Kesiapan dari industri domestik dilontarkan Humas PT Pindad Timbul Sitompul.

Hanya, Timbul menilai, persoalan yang ada saat ini justru terletak pada keseriusan pemerintah untuk memberikan kesempatan pengembangan industri strategis domestik. "Jika tidak diberi kesempatan, kita tentu akan sulit untuk berkembang," tegasnya.

Timbul memaparkan industri pertahanan domestik paling tidak baru kembali menggeliat dalam dua tahun terakhir. Itu setelah, sambung dia, TNI melalui Departemen Pertahanan meminta agar PT Pindad memproduksi 150 panser senilai Rp1,4 triliun.

Pengadaan panser di dalam negeri itu, menurut Timbul, mampu menghemat anggaran negara hingga 60%. "Harga kita lebih murah 50%-60% dari panser luar dengan kualitas setara," ujarnya.

(Sumber: Media Indonesia)

 Dilihat : 3536 kali