10 November 2008
Empat Langkah Lindungi Industri Baja

BANDUNG - Departemen Perindustrian (Depperin) mengusulkan empat langkah untuk melindungi industri nasional dari meluasnya dampak krisis keuangan yang melanda dunia.

"Ada empat instrumen yang kami usulkan untuk membantu industri dalam negeri menghadapi dampak krisis keuangan dunia saat ini," kata Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka (ILMTA) Depperin, Anshari Bukhari, di Bandung, Ahad (9/11).

Pertama, pengendalian impor dengan menerapkan kebijakan ijin impor hanya diberikan kepada Importir Produsen (IP) dan Impor Terbatas (IT). IT mendapatkan izin impor berdasarkan kontrak dengan para produsen kecil yang membutuhkan bahan baku. "Jadi kalau tidak ada kontrak dengan produsen di dalam negeri, IT boleh impor," katanya.

Kedua, pihaknya mengusulkan penerapan aturan antidumping terhadap HRC (Hot Rolled Coil) yang dipotong-potong menjadi HRP (Hot Rolled Plate).

Ketiga, penerapan safeguard (mekanisme pengamanan perdagangan dalam negeri) terhadap impor paku baja. Menurut Anshari Bukhari, saat ini sudah ada ke-rugian ("injury") terhadap industri dalam negeri akibat lonjakan impor paku baja.

"Saat ini, sudah ada 10 industri paku nasional yang tutup. Dalam rapat di Kantor Menko Perekonomian, Rabu pekan lalu, kami telah mendesak penerapan safeguard tersebut," kata Anshari.

Usulan keempat adalah kenaikan tarif baja hulu menjadi 25 persen, baja antara menjadi 30 persen, dan baja hilir maksimal 35 persen.

Tidak Efektif

Namun ia mengakui, kebijakan kenaikan tarif tersebut tidak efektif mengingat sebagian besar impor baja berasal dari Cina, Jepang, dan Korea Selatan, serta negara anggota ASEAN lainnya yang memiliki perjanjian perdagangan bebas bilateral maupun regional dengan Indonesia.

"Jadi berapa pun kenaikan tarifnya tidak signifikan membantu industri baja dalam negeri. Paling efektif memang pengendalian impor," ujar Anshari.

Depperin, lanjutnya, akan mengalihkan usul tersebut dengan kebijakan harmonisasi tarif produk baja, misalnya bahan paku dan kawat bea masuknya dinaikkan menjadi 12,5 persen dari sebelumnya 7,5 persen, sedangkan bahan bakunya wirerod tetap 10 persen.

(Sumber: Republika)

 Dilihat : 3179 kali