10 November 2008
Impor Baja Lembaran dari Tiga Negara Melonjak 70%

JAKARTA - Komite Anti-Dumping Indonesia (KADI) menyatakan, impor baja lembaran panas (hot rolled plate/HRP) pada tujuh bulan pertama 2008 melonjak 70% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan impor tersebut berasal dari tiga negara yang dituduh melakukan praktik banting harga (dumping) HRP, yakni Malaysia, Taiwan, dan Tiongkok.

Lonjakan impor HRP dari tiga negara tersebut ditengarai akibat penerapan bea masuk antidumping (BMAD) terhadap produk baja canai panas (hot rolled coil/HRC) sejak awal Maret 2008. Soalnya, kedua jenis baja tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku produk yang sama.

Pada periode Januari-Juli 2007, volume impor produk HRP tercatat hanya 110.516 ton. Sedangkan volume impor HRP pada periode yang sama tahun ini meningkat drastis hingga 188.129 ton. Industri baja nasional kemudian melaporkan fenomena itu kepada KADI agar diselidiki atas dugaan praktik dumping.

Perusahaan domestik yang mengajukan permohonan perlindungan antidumping kepada KADI adalah PT Krakatau Steel (KS) yang merupakan produsen HRP terbesar di dalam negeri. "KADI sudah mengeluarkan inisiasi antidumping untuk HRP," kata Komisaris Krakatau Steel (KS) Ansari Bukhari di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, importir dicurigai memanipulasi nomor harmonized system (HS) dari produk HRC menjadi HRP untuk lolos dari pengenaan BMAD yang tinggi. Produk HRC dapat dipotong-potong menjadi berbentuk lembaran atau HRP, sehingga kedua produk ini mempunyai nomor HS yang berbeda. Karena HRC sudah kena dumping, dia masuknya bisa pakai HS HRP, tapi dipotong-potong dulu," katanya.

Selain lonjakan impor yang mencapai 70%, harga baja dari tiga negara yang dituduh melakukan praktik dumping tersebut dijual jauh lebih murah dibandingkan harga baja hasil produksi dalam negeri dan impor dari negara lain, seperti Thailand, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan. Harga rata-rata baja dari Tiongkok dalam periode Agustus 2007 sampai dengan Juli 2008 sekitar US$ 701/ton, dari Malaysia sekitar US$ 577/ton, dan Taiwan sebesar US$ 693/ton, dalam negeri sebesar US$ 981/ton, Thailand sebesar US$ 1.083/ton, Jepang sebesar US$ 893/ton, dan Korea sebesar USS 1.109/ton," jelas Ketua KADI Halida Miljani. Dia menjelaskan, indikasi lonjakan impor dan perbedaan harga yang cukup signifikan itu merupakan bukti awal yang kuat bagi KADI untuk meneruskan penyelidikan antidumping terhadap impor dari tiga negara tersebut. "Harga produk impor dari Jepang juga lebih rendah dibandingkan harga di dalam negeri, namun KS tidak mempermasalahkannya karena HRP impor dari Jepang tidak masuk ke pasar domestik. HRP dari Jepang hanya digunakan oleh industri Jepang yang ada di Indonesia, sesuai dengan kesepakatan kemitraan ekonomi Indonesia Jepang (Indonesia Japan Economic Partnership Agreement/IJ-EPA)," tutur dia.

Menurut Halida, praktik dumping merupakan salah satu strategi negara lain untuk menghancurkan bisnis sejenis di dalam negeri. "Awalnya mereka menjual dengan harga murah, sehingga industri sejenis di dalam negeri tidak mampu bersaing dan pada akhirnya tutup. Setelah industri domestik tutup, mereka akan menaikkan harga dan konsumen tidak punya pilihan lain " katanya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 2828 kali