21 Oktober 2008
3 Produsen Baja Pangkas Produksi 25%

JAKARTA - Sedikitnya tiga produsen baja nasional mulai memangkas produksi, menyusul merosotnya konsumsi domestik akibat terhentinya sejumlah proyek infrastruktur dan perumahan.

Ketiga produsen baja yang memangkas produksi tersebut adalah PT Krakatau Steel, PT Essar Indonesia, dan PT Gunung Garuda. Ketiganya akan memangkas produksi 20%-25% pada kuartal IV/2008.

Ketua I Bidang Long Product Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Ismail Mandry mengatakan ketiga perusahan tersebut berkontribusi sangat signifikan terhadap pasar baja nasional. Jika ketiganya memangkas produksi, berarti sedang terjadi penurunan konsumsi di pasar dalam negeri.

Dia menambahkan penurunan konsumsi produk baja dalam negeri ini diikuti oleh tren penggunaan produk impor dari China yang harganya lebih murah oleh konsumen. "Keadaannya memang seperti ini. Kami tidak tahu sampai kapan kondisi ini akan berakhir," ujarnya, kemarin.

Konsumsi baja pada kuartal IV/2008 diprediksi hanya mencapai 800.000 ton - 1 juta ton dibandingkan dengan konsumsi pada kondisi pasar normal yaitu sekitar 1,5 juta ton -1,6 juta ton per kuartal. Total produksi perusahaan baja nasional pada periode tersebut diperkirakan menyusut jadi 750.000 ton dari total 1 juta ton per kuartal.

Direktur Utama PT Essar Indonesia KB Trivedi mengungkapkan perusahaannya sudah memangkas kapasitas produksinya hingga 20% memasuki kuartal IV/2008. Sebelumnya, perseroan mampu memproduksi sebanyak 25.000 ton baja. "Tapi sekarang, kapasitas kami merosot jadi 18.000 ton- 20.000 ton per bulan. Pasar domestik sedang anjlok," ujarnya.

Proyek Pemerintah

Triverdi menilai salah satu penyebab penurunan konsumsi baja nasional adalah banyak proyek pemerintah dan swasta yang terhambat. Hal ini terjadi karena perbankan masih kesulitan likuiditas sehingga tidak dapat dengan mudah mengucurkan kredit. "Bank sudah semakin selektif," katanya.

Dia memperkirakan penurunan permintaan baja nasional akan berlangsung hingga tahun depan. Atas dasar itu, Essar akan menyesuaikan utilisasi produksi bajanya sesuai dengan permintaan baja. "Kami akan tetap akan memprioritaskan pasar ekspor, karena sampai saat ini keuangan kami masih belum terganggu dari ekspor."

Direktur Utama PT Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang ketika dikonfirmasi Bisnis mengatakan saat ini KS ikut terimbas kondisi pasar sehingga terpaksa juga ikut menurunkan produksi.

Sejak dua bulan lalu, ujarnya, perusahaannya telah menurunkan kapasitas produksinya sebesar 15% dari total produksi per tahun sekitar 2,5 juta ton. "Banyak perusahaan baja yang menurunkan kapasitas produksi termasuk PT KS."

Direktur Pemasaran PT Gunung Garuda Sujono juga mengungkapkan hal senada. "Kita sudah memangkas produksi antara 60% dan 70% hingga tinggal 10.000 ton-15.000 ton per bulan."

Dia menuturkan pemangkasan produksi ini terjadi akibat barang produksinya kalah bersaing dengan baja ilegal asal China.

Sujono menambahkan sejak awal 2008 hingga September, impor baja ilegal asal China jenis IWF dan H-Beam alias baja siku telah mencapai 30.000 ton hingga 40.000 ton. Baja jenis ini dijual oleh perusahaannya dengan harga US$1,200 per ton, sementara produk China hanya sebesar USS 1.050 per ton. "Murahnya baja China karena kualitasnya sangat buruk".

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 3109 kali