20 Oktober 2008
Pemangkasan Produksi Baja Domestik Meluas

JAKARTA - Pemangkasan kapasitas produksi baja di dalam negeri akibat dampak krisis finansial di Amerika Serikat (AS), semakin meluas. Setelah PT Gunung Garuda, giliran PT Krakatau Steel (KS) dan PT Essar Indonesia terpaksa menurunkan produksi bajanya.

PT Essar Indonesia, misajnya, saat ini sudah menurunkan kapasitas produksi baja hingga 25%. "Produksi kami turun karena konsumsi baja menurun sampai 40%," kata Direktur Utama PT Essar Indonesia K.B. Trivedi, Jumat (17/10) lalu.  Biasanya, Essar selalu memproduksi baja sebanyak 25.000 ton per bulan. Namun, akibat penurunan konsumsi pasar domestik, perusahaan itu hanya memproduksi 18.000-20.000 ton baja per bulan.

Penurunan konsumsi baja domestik, menurut Trivedi, terjadi akibat serbuan baja asal China yang harganya jauh lebih murah. Banjir baja asal China ini terjadi lantaran pasar baja asal China di Amerika Serikat terpuruk dihantam krisis finansial. Walhasil, mereka mengalihkan baja ke Indonesia. Trivedi memprediksi, penurunan konsumsi baja dalam negeri akan terus berlanjut hingga akhir 2008. "Hingga awal tahun 2009, permintaan baja masih akan lesu," katanya.  Untuk mengantisipasi kondisi lebih buruk lagi, Essar akan memproduksi baja sesuai dengan permintaan. "Karena pasar juga masih lesu," ujar Trivedi.

Nasib serupa juga dialami perusahaan baja milik negara,PT Krakatau Steel. Direktur Utama PT Krakatau Steel Fazwar Bujang bilang, sejak dua bulan lalu, perusahaan sudah mulai menurunkan kapasitas produksi 15% dari 208.000 ton per bulan, menjadi 176.000 ton. "Selain kami, banyak perusahaan lain menurunkan kapasitas produksi" kata Fazwar.

Sependapat dengan Trivedi, Fazwar menjelaskan, penurunan konsumsi baja dalam negeri berlangsung akibat banjir baja asal China. Pasalnya, konsumen di Indonesia tidak mempedulikan kualitas baja dan lebih memilih baja asal China karena harganya lebih murah.  Kondisi ini menyebabkan konsumen baja mengalihkan konsumsinya ke produk baja asal China. "Padahal, banyak produk China tidak memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI)," paparnya.

Sebelum PT Krakatau Steel dan PT Essar menurunkan kapasitas produknya, PT Gunung Garuda sudah lebih dulu mengurangi produksi. Direktur Pemasaran PT Gunung Garuda Sujono mengatakan, sejak Januari 2008 hingga September 2008, impor baja ilegal asal China jenis IWF dan H-Beam alias baja siku mencapai 40.000 ton per bulan. "Terpaksa kami memangkas produksi antara 60% hingga 70%," kata Sujono.

Pasalnya, harga baja siku lokal bisa mencapai US$ 1.200 per ton. Sedangkan harga baja sejenis asal China hanya US$ 1.050 per ton.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 4591 kali