17 Oktober 2008
Impor Baja Ilegal Ditaksir 1,2 Juta Ton

JAKARTA - Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA) memperkirakan, impor baja ilegal yang mendistorsi pasar lokal pada sembilan bulan 2008 mencapai 1,2 juta ton.

Direktur Eksekutif IISIA Hidayat Triseputro mengatakan, pada 2007 jumlah total impor baja canai panas (hot rolled coils/HRC) ilegal ke Indonesia sebanyak 900.000 ton. Kalau dikalikan dengan harga komoditas baja yang saat ini berada di kisaran USS 900 per ton, kerugian negara bisa mencapai USS 810 juta pada tahun lalu. "Hingga saat ini diperkirakan impor baja ilegal itu mencapai angka estimasi 1.2 juta ton," ujar Hidayat di Jakarta, Kamis (16/10).

Akibat peredaran baja impor ilegal yang terus meningkat. Direktur Pemasaran PT Gunung Garuda (GG) Sujono mengatakan, sejak enam bulan lalu perseroan telah memangkas produksi hingga 40%. "Utilitas kami sudah terpangkas 30-40% untuk produk IWF atau H-beam (besi profil) dari kapasitas produksi sebanyak 35.000 ton per bulan karena produk ilegal asal Tiongkok," ujar Sujono.

Dia mencontohkan, produk jadi H-beam asal Tiongkok bisa dijual 20% lebih murah di dalam negeri. Produk ilegal itu diperdagangkan di kisaran USS 1050 per ton, padahal nilai jual bahan setengah jadi dari produk baja sejenis di dalam negeri saja sudah lebih tinggi, yakni USS 1.200 per ton. Bahkan, lanjut dia, tidak sedikit poduk ilegal asal Tiongkok itu menggunakan merek dagang yang dimiliki perseroan. "Hasilnya banyak komplain dari konsumen untuk produk kami, namun setelah dicek ternyata itu pro-t duk palsu dari Tiongkok. Ini sangat merugikan nama baik dan mengancam kinerja produksi perseroan," kata Sujono.

BC Tangkap Baja Ilegal

Seiring dengan itu. Bea Cukai (BC) berhasil menangkap baja impor ilegal senilai Rp 1,2 miliar selama Januari-Oktober 2008. Dirjen BC Anwar Suprijadi mengatakan, tahun ini jumlah impor baja ilegal menunjukkan tren meningkat. Indonesia menjadi salah satu negara tujuan utama para produsen baja dunia karena konsumsinya yang besar. "Hingga September tahun ini jumlah impor baja ilegal melonjak sebesar 15-20%. Untuk membantu industri dalam negeri sant ini, kami (Bea Cukai) dalam status siaga satu," ujar Anwar.

Menurut dia, jumlah impor itu akan meningkat seiring de-ngan pengalihan ekspor sejumlah negara produsen baja dari pasar tradisional ke negara potensial baru seiring terjadinya resesi ekonomi di pasar Amerika Serikat (AS). "Kami akan mengawasi berbagai impor produk baja bukan saja dari Tiongkok, tapi juga Rusia, Taiwan, Thailand. India, dan Singapura," jelas Arifin.

Hidayat Triseputro menambahkan, produsen baja yang tergabung dalam IISIA mengusulkan agar seluruh importir umum (IU) yang melakukan kegiatan impor produk baja masuk jalur merah (dikenakan verifikasi dokumen dan pemeriksaan fisik barang) dari sebelumnya jalur hijau (hanya dilakukan penelitian dokumen). Hal itu dilakukan untuk menekan praktik penyelundupan produk baja guna menyelamatkan industri dalam negeri. "Ini perlu dilakukan demi menjaga kestabilan pasar baja dalam negeri," ujarnya.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) Ansari Bukhari mengatakan, usulan itu mungkin saja dilakukan. Depperin mendukung berbagai upaya untuk menyelamatkan kinerja industri baja sebagai salah satu komoditas strategis. "Itu (usulan) boleh saja dilakukan, pasti akan kami (Depperin) dukung kalau memang bisa menyelamatkan industri nasional dari serbuan produk baja impor," kata Ansari.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 3309 kali