17 Oktober 2008
Go Public BUMN Ditunda Tahun Depan

JAKARTA - Kementerian BUMN memastikan tidak ada perusahaan BUMN yang melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham tahun ini.

"Tahun ini tidak mungkin IPO, apalagi tinggal dua bulan. Seluruh dunia tidak ada yang melakukan IPO. Perusahaan-perusahaan yang punya uang justru melakukan buyback saham," ujar Menneg BUMN Sofyan Djalil di Jakarta, Kamis (16/10).

Sejumlah perusahaan BUMN semula merencanakan IPO saham akhir tahun ini, seperti PT Krakatau Steel (KS), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, PTPN IV, dan PTPN VII. Perusahaan BUMN lainnya, PT Rekayasa Industri (Rekin) dan PT Waskita Karya sudah lebih dulu menunda rencana go public-nya sebelum pasar global memburuk.

Sofyan Djalil juga meminta BUMN untuk sementara tidak ekspansi. "Sebaiknya perusahaan-perusahaan BUMN melakukan yang namanya stress test agar mendapat analisis paling prudent dalam kondisi seperti ini untuk menguji kondisi terburuk yang dapat dialami perusahaan," tuturnya.

Dengan demikian, menurut dia, perusahaan-perusahaan BUMN mampu bertahan dalam kondisi sulit saat ini. Tapi proyek yang sudah dijalankan sebaiknya tidak berhenti karena stress test hanya merupakan exercise," katanya.

Sofyan mencontohkan, PT Aneka Tambang Tbk (Antam/ANTM) masih bisa ekspansi, namun harus melalui kajian yang dalam agar kinerja keuangannya tidak terganggu. Demikian pula PT Semen Gresik Tbk (SMGR).

"Jika mau membangun pabrik harus diperhitungkan lagi. Yang penting sudah menganalisisnya secara prudent bahwa krisis dapat mereka lewati. Begitu pun dengan PT Krakatau Steel karena yang mau membeli juga kesulitan uang," paparnya.

Buyback Saham

Sekretaris Kementerian Negara BUMN M Said Didu menambahkan, pemerintah optimistis pembelian kembali (buyback) saham BUMN tidak akan mengganggu belanja modal (capital expenditure/capex) dan belanja operasional (operational expenditure/opex) BUMN bersangkutan.

"Buyback merupakan bentuk investasi. Jadi, itu tidak akan mengganggu capex dan opex. Kami sudah hitung-hitung dan ini bentuk bisnis yang biasa, malah keuntungan yang didapat akan lebih besar," tandasnya.

Menurut Said, sejumlah BUMN sudah lama ingin buyback. Dengan demikian, pelonggaran aturan buyback saham di bursa memberikan peluang perbaikan iklim investasi di pasar modal.

"Saat ini pemerintah membantu membuka jalan dengan memberi kelonggaran terkait krisis di pasar saham," ujarnya.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 3634 kali