15 Oktober 2008
Bea Cukai Perketat Pengawasan Impor Baja

JAKARTA - Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan akan memperketat pengawasan terhadap importasi baja, untuk mengurangi potensi kerugian negara dari praktik perdagangan tidak wajar sekaligus meningkatkan daya saing baja nasional.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Anwar Suprijadi mengatakan pengawasan baja yang masuk pasar secara tidak sah akan dilakukan dengan menggandeng Asosiasi Baja Indonesia (Indonesia Iron and Steel Industry Associaton/IISIA).

"Kami menggandeng kalangan industri agar praktik perdagangan dan impor baja secara tidak sah dapat dieliminasi, misalnya, terhadap mereka yang seharusnya kena sanksi antidumping, tetapi malah lolos," ujarnya kemarin.

Menurut dia, pengawasanperlu diperketat karena praktik impor baja secara tidak wajar disinyalir makin meningkat. Praktik curang tersebut dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, dengan pemalsuan dokumen impor yang tidak sesuai dengan barang yang dikirimkan dari segi jumlah dan kualitas.

Kedua, kerja sama antara pengusaha Indonesia dan importir yang mengakali ketentuan antidumping yang diterapkan pemerintah. Ketiga, melalui pemindahkapalan (transshipment) baja dari China ke Singapura, sehingga asal produk yang tercantum dalam dokumen adalah dari Singapura. "Selain itu, produk-produk baja ilegal banyak masuk melalui pelabuhan tidak resmi sehingga pemerintah sulit melakukan pemantauan," tambahnya.

Berdasarkan kesepakatan kerja sama antara Dirjen Bea dan Cukai dan IISIA, pengusaha akan berperan sebagai pihak pemberi informasi tentang perusahaan-perusahaan mana yang melakukan transaksi perdagangan tidak wajar.

Pengusaha juga nantinya akan membantu Dirjen Bea dan Cukai dalam mengecek kriteria dan komposisi baja yang masuk ke pasar Tanah Air. Ini dilakukan untuk dapat menentukan kesesuaian produk yang masuk dengan dokumen aslinya.

Di tempat terpisah, Direktur Eksekutif IISIA Hidajat Tri Saputra mengakui telah menyampaikan permintaan pengetatan pengawasan terhadap peredaran baja impor ilegal kepada Ditjen Bea dan Cukai.

Kerja sama dengan Bea dan Cukai perlu dilakukan karena tekanan baja impor ilegal makin tinggi dan sudah berlangsung lama. "Makin tingginya tekanan impor baja ilegal dikhawatirkan dapat mendistorsi pasar baja nasional. Bahkantidak sedikit industri baja yang bangkrut."

Sementara itu, Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menjelaskan sedikitnya empat komoditas hilir baja sejak empat tahun terakhir mengalami kerugian serius, bahkan beberapa perusahaan di antaranya telah menghentikan kegiatan produksi.

Keempat sektor tersebut adalah industri seng baja (baja lapis seng/BjLS), pipa baja, wire rod (kawat baja), dan industri paku dan kawat. Keempatnya diperkirakan merugi setiap tahun rerata Rp380 miliar per tahun. Kerugian itu bahkan bisa lebih besar 15% -25% menyusul krisis keuangan global yang menghambat daya beli dan ekspansi.

Menurut dia, apabila pasar domestik tidak segera dilindungi, keempat sektor baja hilir itu dikhawatirkan akan bangkrut.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 3980 kali