14 Oktober 2008
Industri Khawatirkan Ancaman Baja China

JAKARTA - Para pelaku industri baja dalam negeri kian waspada terhadap kemungkinan pengalihan ekspor China ke Indonesia. Mereka mendesak pemerintah segera mengambil tindakan pengamanan terhadap pasar dalam negeri.

Himpitan krisis keuangan bakal memaksa AS mengurangi impor. Padahal, ekspor produk baja China ke AS selama ini terbilang cukup besar. Sehingga, bila ekspor ke AS menurun, tentunya China bakal mengalihkannya ke Afrika dan Asia, termasuk ke Indonesia. "Nah, ini benar-benar ancaman serius bagi kami," kata Ketua III Asosiasi produsen Besi Baja Seluruh Indonesia (IISIA), Ismail Mandry, Senin (13/10).

Saat ini, kapasitas produksi industri baja China mencapai 450 juta ton per tahun. Menurut Ismail, cukup 10 juta ton saja dialihkan ke Indonesia, pasti industri baja dalam negeri bakal kelimpungan. "Soalnya, kami akan sulit bersaing. Sebab, harga baja China terbilang lebih murah dibandingkan produk lokal," ucapnya.

Kondisi itu, kata Ismail, bakal membuat lebih banyak lagi industri baja dalam negeri mengalami kebangkrutan. Saat ini saja, katanya, sudah empat perusahaan paku gulung tikar.

Ismail bilang, pemerintah harus bertindak cepat mencegah bangkrutnya industri baja di dalam negeri. IISIA mengusulkan tiga opsi untuk mengamankan pasar dalam negeri. Di antaranya, memberlakukan aturan tata niaga impor, safeguard.dan antidumping. "Kami sudah membahas masalah ini dengan Departemen Perindustrian (Depperin)," ujar Ismail.

Ansari Bukhari, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian (Depperin) mengaku, sudah menerima usulan dari IISIA tersebut. "Yang paling cepat bisa diterapkan adalah tata niaga impor," katanya, Senin (13/10).

Ansari bisa memahami, kekhawatiran para pengusaha baja dalam negeri itu. "Bagi kami, ini juga merupakan masalah serius. Pekan lalu, kami sudah melakukan rapat dengan IISIA membahas masalah ini," imbuhnya

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Departeman Perdagangan (Depdag) Diah Maulidah mengaku akan menindaklanjuti usulan IISIA tersebut Menurutnya, Depdag akan mengkaji tiga opsi yang disampaikan USIA tersebut. "Bila aturan tata niaga impor efektif mengamankan pasar dalam negeri, kami akan mengkaji aturan tersebut. Tapi, kami akan mengkaji satu per satu terlebih dulu," ujarnya, kemarin.

Ketua Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia Halida Miljani juga mengaku sudah menerima usulan IISIA menerapkan safeguard dan antidumping. Namun, ia hanya akan melakukan investigasi kemungkinan adanya praktek ini bila IISIA memberikan kepastian tentang kerugian awal akibat impor asal China ini.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 3943 kali