26 September 2008
Impor Baja Ilegal Meningkat

JAKARTA (SINDO) - Departemen Perindustrian (Depperin) memperkirakan impor baja canai panas (hot rolled coils/HRC) ilegal akan membanjiri pasar baja di dalam negeri.

Sejumlah produsen baja asing diduga menggunakan modus manipulasi nomor Harmony system (HS) untuk memasukkan produknya ke Indonesia. Padahal, negara asal produsen tersebut terkena sanksi bea masuk antidumping (BMAD).

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Depperin Ansari Bukhari menyatakan telah menerima informasi dari manajemen PT Krakatau Steel (KS) tentang praktik ilegal tersebut. Ini terjadi seiring maraknya impor pelat baja yang diduga dari produsen negara-negara yang terkena BMAD.

"HRC (berbentuk gulungan) dari lima negara tersebut secara ideal sulit masuk karena pemerintah telah mengenakan sanksi BMAD. Namun, mereka mencari loop hole (celah lain) agar HRC mereka tetap bisa masuk pasar sehingga tak terkena BMAD," papar Ansari di Jakarta kemarin.

Dengan modus manipulasi HS tersebut, lanjutnya, seluruh produsen yang terkena BMAD tidak berkewajiban membayar margin dumping HRC sekitar 30%-40%. Adapun mereka1 hanya terkena bea masuk normal (MFN/ most favorable nations) produk baja lembaran sekitar 5%.

KS, kata Ansari, langsung melaporkan temuannya kepada aparat Ditjen Bea Cukai agar dokumen pemberitahuan ekspor impor barang diteliti lebih lanjut untuk proses pelacakan. "Sejauh ini kami belum mengetahui siapa saja kalangan produsen, asal negaranya, dan volumenya. Namun, kalau mereka terkait dengan lima negara yang terkena BMAD, modus seperti ini merupakan pemanipulasian nomor HS," katanya. Direktur Utama KS Fazwar Bujang menyatakan telah melaporkan permasalahan tersebut kepada Ditjen Bea Cukai sekitar satu bulan lalu. "Saya memang tahu itu, jangan sampai ini jadi permainan padahal barangnya sama," ujar Fazwar kemarin.

Sebelumnya, Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menetapkan pengenaan tarif BMAD terhadap produk baja canai panas impor dari lima negara eksportir, yakni China, India, Rusia, Taiwan, dan Thailand. Penetapan BMAD itu tertuang dalam Permenkeu No 39.1/PMK.011/2008 tertanggal 28 Februari 2008.

Baja canai panas merupakan jenis baja intermediate (antara) yang banyak digunakan di sektor konstruksi. Di samping dapat diolah lebih lanjut menjadi baja canai dingin (cold rolled coils/CRC) yang biasa digunakan untuk membuat bodi kulkas, sengbaja, dan produk elektronik lainnya.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Assoriation (IISIA) Hidayat Triseputro membenarkan adanya praktik pemotongan HRC untuk kemudian diolah menjadi pelat baja. "Indikasi itu memang ada, tapi kita belum tahu secara detailnya," paparnya.

Dia melanjutkan, jika hal ini terus ter jadi, KS akan memperoleh persaingan produk baja yang harganya berada di bawah pasar. Jika ini terus berlanjut, lambat laun akan menggerus penjualan KS yang selama ini menjadi pemain terbesar di Industri ini.

"Selain itu, hal ini akan membuat harga pasar tidak kompetitif bagi produsen baja nasional karena harus bersaing dengan produk yang harganya lebih murah," tukasnya.

(Sumber: Harian Seputar Indonesia)

 Dilihat : 3980 kali