26 September 2008
Baja HRC Selundupan Terus Membanjiri Pasar Indonesia

JAKARTA - Baja selundupan dari luar negeri makin membanjiri pasar Indonesia. Misalnya, produk jenis hot rolled coils (HRC) alias baja canai panas selundupan yang semakin menguasai pasar Indonesia sejak tujuh bulan terakhir.

Modus para penyelundup HRC adalah memalsukan dokumen impor. Mereka menyebutkan HRC pada dokumen impor sebagai sebagai pelat baja

I Putu Suryawirawan, Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian (Depperin) mengungkapkan, volume impor baja selama tujuh bulan pertama tahun ini sudah mencapai 7,5 juta ton atau setara dengan USS 7 miliar. "Ini termasuk sudah tidak wajar," katanya, kemarin.

Adapun volume impor bahan baku masih sama dengan tahun lalu, yakni 4 juta hingga 4,5 juta ton. "Sisanya adalah bahan jadi. Ini sangat membahayakan pasar domestik," katanya.

PT Krakatau Steel (KS) juga menemukan indikasi ini. Perusahaan ini lantas mengirimkan surat kepada Departemen Perindustrian dan Ditjen Bea Cukai soal dugaan HRC selundupan ini. "Suratnya sudah dikirim sebulan lalu," kata Ansari Bukhari, Komisaris Krakatau Steel.

Sayangnya, Ansari enggan menyebut jumlah HRC selundupan. Ia menduga bahwa HRC selundupan itu berasal dari China, India, Rusia, Taiwan, dan Thailand.

Modusnya, para importir melaporkan bahwa baja yang didatangkan dalam bentuk plat baja. Padahal faktanya, baja tersebut merupakan HRC yang sudah dipotong-potong. "Mereka mencari celah agar HRC bisa masuk pasar dan tidak terkena bea masuk anti dumping (BMAD) baja," kata Ansari.

Dengan pemalsuan dokumen itu, importir dan produsen yang terkena BMAD tak wajib membayar marjin anti dumping HRC sebesar 30% hingga 40%. Merekacuma membayar bea masuk normal produk baja lembaran impor sebesar 5%.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidajat Triseputro mengakui adanya modus ini. Ia melihat, banyak importir dan produsen baja yang memasukkan HRC berbentuk gulungan dan potongan. Mereka rupanya memotong HRC saat hendak memasukkannya ke Indonesia "Memang modusnya diperkirakan seperti itu," tegasnya.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 3820 kali