19 September 2008
Inefisiensi Investasi Landa Sektor Hilir Baja

JAKARTA - Selama puluhan tahun, pengembangan industri baja nasional ternyata kehilangan arah sehingga berdampak serius pada terjadinya inefisiensi investasi.

Inefisiensi investasi timbul karena buruknya kinerja di sektor hilir baja yang ditandai dengan distorsi pangsa pasar akibat kian lemahnya daya saing sektor itu sepanjang lima tahun terakhir. Hilangnya daya saing itu akibat tingginya ketergantungan bahan baku impor sehingga sektor hilir baja terus dikendalikan oleh mahalnya harga bahan baku berupa produk-produk semifinished.

Atas dasar itu, industri hilir tidak mampu bersaing dengan produk-produk jadi (finished product) asal impor yang lebih murah karena pada saat yang sama dihantam oleh kelangkaan pasokan energi listrik.

Tingginya impor semifinished, seperti slab, scrap, billet, wire rod (kawat baja), hingga pellet, disebabkan oleh kapasitas industri hulu baja nasional masih sangat kecil sehingga tak mampu menutupi konsumsi baja yang terus meningkat rerata 10%.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini menyebutkan total nilai impor baja sepanjang Januari-Juli 2008 melonjak 127,11% dibandingkan de-ngan nilai impor pada periode sama 2007 dari US$3,08 miliar (setara 4 juta ton) menjadi US$7 miliar (7,5 juta ton).

"Sebagai contoh, membanjirnya impor pipa baja asal China yang lebih murah dibandingkan dengan bahan bakunya [HRC/baja canai panas], menyebabkan industri pipa di dalam negeri terpuruk dan beroperasi di bawah kapasitas," kata Ketua Umum Indonesian Iron and Steel Industry Association (USIA) Fazwar Bujang, kepada Bisnis, baru-baru ini.

Menteri Perindustrian Fahmi Idris bahkan menyatakan industri baja nasional adalah sektor yang hidup dan tumbuh dari besarnya asupan impor. "Industri baja kita adalah murni importir," tegas Menperin pekan lalu.

Dukungan Infrastruktur

Daya saing industri baja dari waktu ke waktu, lanjut Fazwar, bahkan semakin tragis karena tidak adanya dukungan infrastruktur vital seperti pasokan energi dan bahan baku bijih besi (iron ore). Akibatnya, pengembangan sektor hulu baja (upstream) terbengkalai.

Pada saat yang sama, pemerintah sangat sulit mengoptimalkan posisi tawarnya secara bilateral untuk mendorong tumbuhnya sektor hulu baja dengan menarik investasi sebesar-besarnya. "Jadi, pengembangan di hulu sulit, ke hilir makin sulit," lanjutnya.

Agresifnya pengembangan investasi baja di sektor hilir pada saat itu,menurut Fazwar, karena pengusaha menginginkan keuntungan sesaat, tetapi melupakan pembangunan struktur industri baja yang tangguh dan terintegrasi yang dimulai dari hulu.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 3249 kali