16 September 2008
Harga Baja Sentuh Titik Terendah

JAKARTA - Harga baja jenis hot-rolled-coils (HRC/baja canai panas) berketebalan di atas 2 nun (ukuran standar) di pasar internasional pada September merosot ke titik terendah sejak pekan pertama September.

Posisi harga tersebut tercatat US$950 per ton jauh lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh level US$1,220 per ton. Hal serupa terjadi pada baja canai dingin (CRC/cold-rolled-coils).

Berdasarkan data yang dirilis Middle East Steel (MESteel), harga ekspor baja canai dingin asal China ke Timur Tengah (cost, insurance and freight/CIF export) turun menjadi sekitar US$1,000- US$1,050 per ton dari posisi harga Agustus yang masih sekitar US$1.350 per ton.

Sementara itu, untuk harga HRP (hot rolled plate) terkoreksi tipis sekitar US$50 - US$70 per ton menjadi US$1,200 per ton.

Selain di kelompok flat product (HRC, CRC, dan HRP/hot rolled plate), penurunan harga juga terjadi di sektor long product (baja tulangan beton dan kawat baja/wire rod). Harga kawat baja (bahan baku kawat dan paku) ikut terkoreksi sekitar US$130 per ton menjadi US$900-US$970 per ton.

Penurunan harga baja tersebut merupakan yang terendah sejak Februari 2008 seiring dengan anjloknya harga minyak mentah ke posisi US$107 per barel. Keadaan tersebut diperkirakan akan berpengaruh terhadap penurunan harga baja di pasar dalam negeri menjadi sekitar RplO.OOO - Rp 10.500 per kg.

Kendati demikian, PT Krakatau Steel (Persero) malah pernah memperkirakan harga HRC di pasar dalam negeri akan terus naik- meskipun tipis-pada September menjadi sekitar Rpl3.460 per kg dibandingkan dengan harga pada Agustus yang sebesar Rpl3.000 perkg. Namun, BUMN baja itu juga pernah memprediksi akan terjadi penurunan harga baja dunia pada kuartal in/2008 seiring dengan anjloknya harga minyak mentah.

Sebaliknya, para pelaku di industri baja domestik memperkirakan harga baja pada September akan merosot di kisaran 10%-30%. "Konsumsi baja di beberapa region juga melemah akibat summer dan tibanya musim hujan. Pada saat yang sama, produsen baja Taiwan mengurangi produksinya karena mengalami pembatasan listrik sehingga mengganggu ekspor," kata Dirut Krakatau Steel (KS) Fazwar Bujang, belum lama ini.

Harga Serap Anjlok

Selain penurunan harga di sektor flat dan long product, para pelaku industri baja menyatakan harga bahan baku baja berupa serap (baja kasar/besi bekas) di pasar domestik pada September anjlok akibat penurunan permintaan di pasar lokal.

Dalam kurun waktu sebulan terakhir harga (serap) menurun 30% dari Rp5.500 per kg menjadi Rp3.500 per kg. Serap merupakan bahan baku yang digunakan industri baja untuk memproduksi baja tulangan beton (long product).

Direktur Eksekutif Indonesia Iron and Steel Industry Association (USIA) Hidayat Triseputro mengatakan permintaan baja di pasar lokal sedang lesu. Produksi pabrik baja, katanya, pada kuartal II/2008 sementara ini dipangkas.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh periode sepi peminat menjelang libur Lebaran. "Selain itu, sentimen harga minyak dunia yang cenderung menurun memengaruhi pasar baja lokal," ujar Hidayat, kemarin.

Namun, Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian I Putu Suryawirawan mengatakan penurunan harga baja tidak berkorelasi langsung dengan libur Lebaran. Penurunan ini justru dipicu oleh membanjirnya produk baja dari luar negeri, terutama China.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 4472 kali