16 September 2008
Penundaan IPO BUMN Tepat

TERGUNCANGNYA pasar finansial yang ditandai bergugurannya indeks berbagai bursa khususnya di Asia merupakan dampak lanjutan krisis di Amerika Serikat. Karena itu, langkah pemerintah menunda pelepasan saham perdana sejumlah BUMN dianggap tepat.

Hal itu diungkapkan pengamat bursa Yanuar Rizky melalu sambungan telepon kepada Media Indonesia, kemarin. Menurutnya, dalam kondisi seperti ini pemerintah hendaknya menahan diri. Kendari begitu, kondisi itu akan fluktuatif yang artinya ada waktu-waktu tertentu indeks bisa membaik.

"Begitu pasar membaik, barulah IPO digelar. Jadi harus disesuaikan dengan kondisi yang ada," kata Yanuar.

Sebelumnya, pemerintah menyatakan akan menunda privatisasi lima BUMN melalui proses IPO hingga tahun depan. Pasalnya, kondisi pasar yang tidak kondusif membuat pemerintah harus menjadwal ulang kembali rencananya. Lima BUMN yang diprioritaskan untuk IPO tahun ini, menurut rencana, ialah PT Krakatau Steel, PT Perkebunan Nusantara (PN) III, PTPN IV, PTPN VII, dan PT Bank Tabungan Negara

Lebih jauh. Yanuar menuduh bahwa gejolak pasar ini merupakan rekayasa otoritas keuangan AS, yakni The Fed. Pascakolapsnya pasar perumahan AS, The Fed menyusun berbagai skenario penyelamatan seperti dilakukan pada Bear Steam, Fannie Mae, dan Freddie Mac. Di samping itu, bank sentral AS juga menggunakan instrumen repo (repurchasing order) dan reverse.

Meski begitu, Yanuar optimistis pelemahan itu tidak akan berlangsung lama. Soalnya, The Fed mengantongi banyak stok yang harus dilepas ke pasar. Dengan demikian, mereka pasti akan mendongkrak kembali indeks agar harga yang mereka peroleh terbilang tinggi.

"Jadi saya menyayangkan pernyataan Sofyan Djalil (Menteri Negara BUMN) yang menyeru kepada BUMN melakukan buy back saham."

(Sumber: Media Indonesia)

 Dilihat : 3238 kali