15 September 2008
Penunjukkan Lembaga Penunjang IPO BUMN Ditunda

Jakarta - Kementerian Negara BUMN menunda penunjukkan lembaga penunjang hasil seleksi menyusul penundaan pelaksanaan penawaran saham perdana (IPO) lima BUMN yang saat ini telah mendapat lampu hijau dari DPR. Penundaan tersebut akibat kondisi pasar global yang terus bergejolak, memicu kepanikan pasar yang mulai membingungkan investor.

Seperti diberitakan, lembaga penunjang yang terdiri dari penjamin emisi (underwriter), akuntan publik, pengacara, penilai, dan notaris, telah diseleski oleh lima BUMN tersebut Adapun hasil seleksi kemudian diserahkan pada Kementerian BUMN untuk ditentukan pemenangnya.

Menurut rencana, Kementrian BUMN akan mengumumkan hasil penunjukan tersebut dalam pekan ini. Akan tetapi, kondisi pasar mengarahkan pemerintah untuk menunda penunjukkan tersebut. "Ini sangat tergantung pada kondisi pasar. Pada prinsipnya saya akan panggil semuanya dan membicarakan. Kita akan tunda sampai pasar bagus, tapi kalau ada kebutuhan yang mendesak untuk mengangkat, kita akan angkat, Akan tetapi, dengan syarat mereka bekerja pelan-pelan," ungkap Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil di Jakarta, akhir pekan lalu.

Diungkapkan Sofyan, lembaga penunjang BUMN dalam melaksanakan IPO memang ditentukan dalam tender. Sehingga, jika persyaratan tender mengharuskan Kementerian mengangkat lembaga penunjang, hal ini akan dilakukan. Sehingga, pa-da saat pasar membaik, proses IPO bisa segera dilakukan.

Meski demikian, jika di persyaratan tender tidak ada kewajiban mengangkat lembaga penunjang sesegera mungkin. Kementerian akan menundanya. Namun, dia tidak menyebutkan apakah pemenang sekarang akan otomatis diangkat pada saat pasar kondusif. "Kalau tidak mendesak, tidak perlu angkat sekarang, karena belum ada satupun yang diangkat tapi tender sudah mereka lakukan," katanya.

BUMN yang menjadi prioritas pemerintah untuk di-go public-kan ialah PT Krakatau Steel, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, PTPN IV, PTPN VII, dan PT Bank Tabungan Negara. Nama-nama tersebut diurutkan sesuai prioritasnya. Pasalnya, Kementerian menilai pelaksanaan IPO yang berbarengan akan membuat pasar terlalu sesak. Sehingga bisa menekan harga saham yang akan dilepas.

Buy Back

Sementara itu, pemerintah mengimbau agar seluruh BUMN yang melantai di bursa melakukan buy back alias pembelian saham kembali tahun 2009. BUMN dimaksud adalah PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT BNI Tbk (BBNI), PT BW Tbk (BBRI), PT Wijaya Karya Tbk (W1KA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Kelima emiten tersebut sudah menyatakan minatnya untuk melakukan buy back pada Kementerian BUMN. Selain 5 emiten tersebut, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) saat sedang dalam proses buy back. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) juga sedang melaksanakan buyback 3% sahamnya.

"Mulai tahun depan kami akan minta seluruh BUMN terbuka untuk memasukan agenda buyback dalam RUPS," ujar Sofyan di kesempatan yang sama.

Rencana pembelian saham kembali tersebut dilakukan untuk mengantisipasi jatuhnya harga saham BUMN. Maka dari itu pemerintah meminta kepada para masing-masing BUMN terbuka untuk mengalokasikan dana terkait rencana buy back tersebut.

Ia mengatakan, saat ini hanya PT Telekomunikasi Indonesia yang sudah menyiapkan dana untuk program buyback hingga tahun 2009. "Dana yang disiapkan oleh Telkom untuk buyback sebesar Rp 3 triliun, itu sudah dibicarakan dalam RUPS mereka," katanya.

Namun menurut Sofyan, kinerja Telkom saat ini sudah outperform, "Jadi mungkin untuk Telkom tidak perlu lakukan buy back" pungkasnya.

Secara terpisah Direktur Utama BEI, Erry Firmansyah Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan dukungannya terhadap rencana pembelian kembali saham (buyback) 5 BUMN.

Aksi buyback diharapkandapat memperkuat posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok. "Selain memperkuat posisi IHSG, rencana buyback tersebut juga menguntungkan perusahaan, karena buyback dilakukan saat harganya murah," ujar Erry.

Menurut Erry pada hari Kamis pekan lalu, pihaknya bersama Bapepam-LK dan sekitar A0 perwakilan pelaku pasar modal telah mengadakan pertemuan untuk membicarakan kondisi bursa sepekan terakhir, menyusul anjloknya portofolio IHSG.

"Hasil pertemuan tersebut menyimpulkan, bahwa kondisi fundamental perekonomian Indonesia dan kinerja emiten masih cukup baik. Namun rupanya, investor lebih banyak digerakkan oleh sentimen negatif global, terutama penurunan harga komoditas," ulas Erry.

Sentimen tersebut kemudian mendorong aksi jual investor-investor, meski pun diawali oleh terjadinya penjualan bersih oleh asing. Aksi berantai tersebut kemudian menggerus IHSG.

"Apalagi diperparah dengan ketatnya likuiditas serta merosotnya nilai tukar rupiah. Akumulasi dari semua kondisi itu akhirnya menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal," imbuh Erry.

Oleh karena itu, Erry mengatakan, BEI dan Bapepam-LK bersama sejumlah perwakilan pelaku pasar mendukung rencana 5 emiten BUMN untuk melakukan buyback di saat harga saham sedang murah.

(Sumber: Harian Ekonomi Neraca)

 Dilihat : 4314 kali