10 September 2008
Harga Bahan Baku Naik, Produsen Seng Pangkas Marjin

JAKARTA - Para produsen baja lapis seng dalam negeri dalam posisi sulit. Soalnya, harga baja canai dingin atau cold rolled coils (CRC), sebagai bahan baku baja lapis seng, kembali terbang ke langit.

Harga CRC semula Rp 12.700 per kilogram (kg). Kini naik menjadi Rp 13.700 per kg. Kenaikan harga bahan baku secara otomatis meningkatkan biaya produksi perusahaan. Apalagi masih ada tambahan biaya US$ 84 per ton guna mengolah CRC menjadi lembaran seng setebal 0,2 milimeter.

Celakanya, kenaikan bahan baku itu terjadi di saat daya beU konsumen sedang merosot. Akibatnya, produsen tak mampu menaikkan harga jual baja lapis seng tersebut.

Lantaran tak menaikkan harga jual, margin laba pun makin terpangkas. "Kejadian ini sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu," kata Direktur Eksekutif Asosiasi produsen Besi Baja Seluruh Indonesia (IISIA) Hidajat Triseputro, Selasa (9/9). Sebenarnya, tutur Hidajat, sepinya pelanggan sudah mulai dirasakan sejak awal tahun ini. Pemicunya adalah kenaikan harga bahan baku.

Di tengah tingginya harga bahan baku seng itu, banyak pelanggan yang,membatalkan pesanan. Calon pembeli ini merasamakin berat membeli baja lapis seng yang makin mahal. Jalan tengahnya, produsen seng menggunting marjin, yang penting produk mereka tetap laku.

"Kalau tidak pelanggan pada kabur. Ini benar-benar dilema bagi kami," cetusnya.  Hidajat mencontoh, sewaktu harga CRC Rp 12.700 per kg, mestinya harga jual baja lapis seng berkisar Rp 44.000 -Rp 46.000 per lembar. Gara-gara pembeli mengancam membatalkan order, produsen melepas baja lapis seng Rp 38.250 -Rp 40.500 per lembar.

Hidajat menyadari, jika kondisinya seperti itu berlangsung lama, banyak perusahaan yang merugi. "Paling kami mengurangi produksi dan berhenti berproduksi sementara untuk mengurangi kerugian," katanya

Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel Irvan Kamal membenarkan kenaikan harga jual CRC tersebut "Ongkos produksi menghasilkan CRC sekarang inijuga sudah naik," kata Irvan. Sayang, Irvan tidak menjelaskan berapa besar kenaikan ongkos produksi tersebut.

Direktur Industri Logam Depertemen Perindustrian (Depperin) I Putu Suryawirawan juga membenarkan bahwa industri seng merugi akibat kenaikan harga CRC. Namun, Depperin tak akan campur tangan terhadap masalah ini. "Kami tidak bisa intervensi pasar," tegasnya.  Walau merugi, Putu menyarankan produsen seng tidak menutup pabriknya. Sebab, membangun pabrik baja lapis seng butuh modal besar.

(Sumber: Harian Kontan)

 Dilihat : 5191 kali