10 September 2008
Pabrik Baru Krakatau Steel Tunggu IPO Tuntas

JAKARTA - PT Krakatau Steel (Persero) berencana membangun pabrik baru di Cilegon, Banten, pada akhir tahun 2009. Pembangunan dilaksanakan jika hasil penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) BUMN produsen baja dengan produksi pelat baja 1,5 juta ton tersebut bisa berjalan sukses.

Hal itu dikatakan Direktur Utama PT Krakatau Steel, Fazwar Bujang, usai acara soft launching The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) di, Jakarta, Senin (8/9) malam. "Jika IPO kami nanti sukses, akhir 2009 pembangunan pabrik baru yang di Cilegon sudah bisa dimulai," katanya.

Target penerimaan dari IPO yang akan digelar pada Nopember 2008 mencapai Rp 5 triliun. Menurut perkiraan, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan pabrik tersebut minimal 30 bulan.

Menurutnya, perkiraan biaya investasi akan dikonsultasikan terlebih dahulu dengan penjamin emisi IPO perseroan. Dana yang diperlukan untuk membangun pabrik tersebut seluruhnya diambil dari hasil IPO.

Namun, Fazwar belum bersedia menyebutkan total investasi yang dibutuhkan untuk membangun pabrik tersebut. Tapi seluruh dana IPO akan digunakan untuk membangun pabrik barut. "Jika masih dibutuhkan maka ditambah pinjaman perbankan," jelasnya.

Kementerian Negara BUMN sebelumnya menegaskan melepas penawaran saham maksimal 40 persen pada IPO nanti. Dengan rasio sebesar itu, Kemenneg BUMN menaikkan target perolehan dana IPO KS dari Rp 4 triliun menjadi Rp 5 triliun. Hal itu karena kinerja perusahaan diperkirakan meningkat seiring lonjakan harga baja.

Rencananya, lanjut Fazwar, pembangunan pabrik pelat baja ini dikerjakan setelah pemancangan pertama pabrik pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan, yang dijadwalkan pada Nopember mendatang.

Fazwar melanjutkan, pabrik baru pelat baja tersebut juga akan dilengkapi teknologi baru yang lebih efisien, sehingga dari slep baja bisa langsung dipotong menjadi lembaran baja. "Lembaran yang dihasilkan akan berukuran lebih besar dari pabrik baja yang sebelumnya sudah ada. Targetnya untuk digunakan oleh golongan kapal dan pipa-pipa berukuran besar," katanya.

Relokasi Pabrik

Sementara itu, Ketua IISIA Ismail Mandry mengatakan, sekitar 30 pabrik baja Cina berskala kecil merelokasi Uni produksinya ke Indonesia sejak tahun lalu. Relokasi itu dilakukan mengingat kebijakan pemerintah Cina yang memperketat pengawasan limbah dan polusi untuk industri baja. "Sebanyak 30 pabrik besi beton China itu merelokasi ke Kabupaten Sidoarjo, Mojokerto, dan Tangerang. Total investasinya sekitar di atas 50 juta dolar AS," ujar Ismail.

Menurutnya, rata-rata kapasitas produksi pabrik relokasi dari Cina itu sekitar 20 ribu-10 ribu ton per tahun. Kendati demikian, IISIA meminta pemerintah menindak tegas pabrik-pabrik tersebut justru mendistorsi pasar baja lokal. "Ini karena hingga kini, ke-30 pabrik besi beton Cina itu tidak menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Kami minta pemerintah tegas menindak mereka. Kalau perlu dicabut izinnya sesuai ketentuan SNI," katanya.

Menurut dia, keberpihakan pemerintah perlu dipertegas untuk mendukung pengembangan industri baja nasional. "Pemerintah tidak perlu memberikan keistimewaan khusus bagi investor asing," pinta Ismail.

Di samping mewaspadai pabrik baja asal China, EISIA juga meminta tiga sektor baja, yakni baja lapis seng (BjLS), pipa baja, serta paku dan kawat dimasukkan dalam daftar negatif investasi. Alasannya, tiga sektor industri baja yang berasal dari Cina tersebut telah memproduksi dengan utilisasi rendah, di bawah 40 persen. Akibat gencarnya impor baja di bawah standar tersebut, tutur Ismail, menyebabkan tiga produsen paku dalam negeri terpaksa menutup usaha dan 10 perusahaan lainnya memangkas produksi.

(Sumber: Republika)

 Dilihat : 2898 kali