09 September 2008
IISIA Awasi Produsen Baja China

JAKARTA (SINDO) - Produsen baja nasional yang memproduksi baja untuk konstruksi (long product) mendesak pemerintah agar mengawasi pergerakan sedikitnya 30 perusahaan asal China di Indonesia. Pemerintah diminta memberikan sanksi tegas berupa penutupan pabrik karena produk yang dihasilkan tidak mengacu Standar Nasional Indonesia (SNI).

Ketua I Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Ismail Mandry mengatakan, ke-30 perusahaan baja asal China tersebut sudah mulai masuk ke Indonesia sejak tahun lalu. Perusahaan-perusahaan itu, lanjut dia, tersebar di beberapa daerah di Indonesia antara lain, Mojokerto, Sidoarjo (JawaTimur), dan Tangerang.

"Akibatnya, ada distorsi pasar lantaran ada perbedaan harga yang mencolok. Mereka sudah menyelesaikan pembangunan pabriknya dan telah beroperasi saat ini," ujar Ismail seusai konferensi pers peluncuran IISIA di Jakarta kemarin.

Ismail menjelaskan, ke-30 perusahaan baja asal China tersebut harus keluar dari negeri asalnya ke sejumlah negara AsiaTenggara. Itu akibat kebijakan pemerintah negeri Panda yang memberlakukan kebijakan industri baja nasionalnya harus yang bernilai tambah besar.

Direktur Industri Logam Departemen Perindustrian (Depperin) I Putu Suryawirawan mengatakan, pemerintah sudah menetapkan SNI wajib bagi produk baja tulangan beton (salah satu jenis long product) terhitung sejak 13 Agustus 2008. Untuk itu, jelas dia, saat ini Depperin tengah menunggu itikad baik dari ke-30 perusahaan asal China tersebut untuk menerapkan dalam produknya.

Sementara itu, sedikitnya enam asosiasi baja nasional dari hulu, antara, hingga ke hilir meleburkan diri dan bernaung dalam sebuah organisasi baru bernama IISIA. Saat ini, utilisasi industri baja di Indonesia hanya sebesar 60% akibat terdesak gempuran baja impor murah.

Ketua Umum IISIA Fazwar Bujang mengatakan, pendirian IISIA merupakan salah satu bentuk upaya meningkatkan daya saing industri di dalam negeri. Apalagi, industri baja menunjukkan tren positif dan strategis bagi Indonesia seiring harga baja yang terus melonjak. "Sebelumnya,kita berjalan sendiri-sendiri dengan kepentingan masing-masing, di hulu maupun hilir. Karena itu, kita sekarang menyadari kalau sendiri-sendiri informasi tidak terintegrasi," tutur Fazwar.

(Sumber: Harian Seputar Indonesia)

 Dilihat : 4891 kali