09 September 2008
KS Bangun Pabrik Baru Rp 5 Triliun

JAKARTA - BUMN produsen baja, PT Krakatau Steel (KS), berencana membangun pabrik baru di Cilegon yang memproduksi pelat baja dengan kapasitas 1.5 juta ton pada tahun depan. Seluruh dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/lPO) saham KS yang akan digelar November 2008 dengan target Rp 5 triliun akan dibenamkan dalam pembangunan pabrik baru itu.

Pabrik baru itu ditujukan guna memenuhi kebutuhan pelat baja (plate mill) terutama bagi industri galangan kapal. Selama ini, KS hanya mampu memproduksi pelat baja dengan ketebalan 20 milimeter dan lebar maksimal 2 meter. Padahal, industri galangan kapal di Batam membutuhkan pelat baja dengan ketebalan 60 milimeter dan lebar 3.5 meter.

Dirut KS Fazwar Bujang menjelaskan, perkiraan biaya investasi dari pabrik baru di Cilegon itu akan dikonsultasikan dengan penjamin emisi IPO perseroan. "Seluruh dana IPO akan digunakan untuk membangun pabrik baru itu, ditambah pinjaman perbankan jika dibutuhkan." katanya usai soft launching peleburan asosiasi baja menjadi The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) di Jakarta, Senin (8/9).

Namun, Fazwar belum mau berkomentar banyak tentang penetapan penjamin emisi IPO KS karena masih menunggu keputusan Menneg BUMN.

Sebelumnya, dengan penawaran maksimal 40%, Kementerian Negara BUMN menaikkan target perolehan dana IPO KS dari semula Rp 4 triliun menjadi Rp 5 triliun mengingat kinerja perusahaan diperkirakan meningkat seiring lonjakan harga baja.

Menurut Fazwar, pembangunan pabrik pelat baja di Cilegon akan dilakukan setelah pemancangan pertama pabrik pengolahan bijih besi di Kalimantan Selatan pada November mendatang. KS membentuk perusahaan patungan dengan PT Antam Tbk -bernama PT Meratus Jaya ironSteel -guna membangun pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 315 ribu ton itu.

Dalam perusahaan patungan itu, KS memiliki 66% saham dan Antam 34%. Nilai investasi proyek di Kalsel itu mencapai US$ 60 juta. Pabrik baru tersebut akan mulai beroperasi pada 2010.

Fazwar yang juga menjadi ketua umum IISIA menerangkan, investasi di Cilegon dan Kalimantan dilakukan untuk menyeimbangkan kapasitas produksi perseroan dari hulu hingga ke hilir.

Berdasarkan catatan Investor Daily, KS berencana membangun empat unit fasilitas produksi baja hulu (steel mailing) yang akan dipusatkan di Cilegon, Banten. Empat proyek penambahan kapasitas produksi itu meliputi pembangunan fasilitas peleburan baja mini (mini blast furnace) berkapasitas 500 ribu ton per tahun. Sedangkan pembangunan fasilitas medium blast furnace ditargetkan menghasilkan baja slab sekitar 1 juta ton per tahun.

Pembangunan kedua fasilitas tersebut untuk mendukung peningkatan produksi hot strip mill perseroan dari 2 juta ton menjadi 2,4 juta ton per tahun. Untuk menyinergikan kedua proyek tersebut, KS segera merevitalisasi fasilitas hol strip mill untuk dapat berproduksi sebanyak 2,4 juta ton per tahun.

Fazwar mengakui, pembangunan pabrik baru di Cilegon perlu dilakukan secepatnya guna mengantisipasi lonjakan permintaan yang terus bertumbuh, ditambah angka impor yang terus membesar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor baja Januari-Juli 2008 melonjak 127,11% dibandingkan periode yang sama 2007.

Nilai Impor

Direktur Pemasaran KS Irvan Kamal Hakim menilai, lonjakan impor disebabkan kenaikan tajam harga baja di pasar internasional. Seiring dengan itu, marak terjadi aksi spekulatif dari importir guna menangkap peluang dari lonjakan harga baja dunia.

Menurut dia, lonjakan harga baja dunia selama semester 1-2008 tercatat 100-120% dibandingkan periode yang sama 2007. Dengan kondisi itu, importir banyak berspekulasi, sementara produsen cenderung menahan produksi. Di sisi lain, kata dia, produk impor ilegal baja diduga turut mendistorsi pasar domestik.

Sedangkan menurut Presdir Gunung Garuda Group, produsen kedua terbesar baja setelah KS, Djamaluddin, lonjakan impor terjadi terkait guncangan yang terjadi di Tiongkok dan Vietnam. "Dengan penerapan kebijakan likuiditas ketat di Tiongkok, pabrik-pabrik baja justru mengekspor produknya dengan banting harga," katanya.

Selain itu, menurut Ketua IISIA Ismail Mandry, pabrik-pabrik baja berkapasitas kecil di Tiongkok terpaksa menutup usaha karena pengetatan kebijakan pemerintah.

Bentuk IISIA

Menyadari perkembangan yang cepat industri baja di regional dan internasional, enam asosiasi baja antara lain Gabungan Pengusaha Seng Indonesia (Gapsi), Gabungan Pengusaha Pipa Baja Indonesia (Gapipa), Gabungan Asosiasi Produsen Besi Baja Seluruh Indonesia (Gapbesi), dan Asosiasi Pabrik Bilet Besi Beton dan Batang Kawat Seluruh Indonesia (Abbepsi) melebur menjadi satu asosiasi tunggal yakni IISIA. "Sebanyak 80 pabrik baja di seluruh Indonesia sepakat untuk menyatukan visi guna mencari solusi pengembangan industri baja nasional," kata Direktur Eksekutif IISIA Hidajat Triseputro.

Menurut dia, peleburan itu dilakukan guna menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi industri baja nasional. "Selama ini industri baja hulu dan hilir berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi," ucapnya. Selain itu, lanjut dia, asosiasi baru itu dibentuk guna menjembatani disharmonisasi tarif bea masuk yang telah mendistorsi industri baja hulu.

(Sumber: Investor Daily Indonesia)

 Dilihat : 4360 kali