09 September 2008
Industri Baja Nasional Harus Mandiri

JAKARTA - Kalangan industri baja nasional masih banyak menghadapi kendala. Dari persoalan energi baik pasokan maupun harga yang terus meningkat, juga masalah ketersediaan bahan baku.

Di samping itu konflik industri di sektor hilir maupun hulu masih terus muncul sehingga menimbulkan kurangnya harmonisasi antarindustri. Karena itu, sudah saatnya diperlukan kesatuan dari semua industri baja nasional agar muncul kemandirian dalam pasar dalam negeri.

Hal itu dikatakan ketua umum Asosiasi Industri Baja dan Besi Indonesia (Indonesian Iron Steel Industry Association/IISIA), Fazwar Bujang, dalam peresmian IISIA di Jakarta, Senin (8/9) sore.

Fazwar yang juga direktur utama PT Krakatau Steel (Persero) mengungkapkan sebagai negara berkembang,daya saing industri baja Indonesia masih kalah dibanding industri baja di negara berkembang lain seperti India. Industri baja nasional juga kurang memiliki landasan kuat untuk berkembang dan ini bisa dipahami karena sejumlah persoalan yang masih mengganjal.

"Hampir semua industri baja, di luar KS, Gunung Garuda maupun Ispat (anak perusahaan ArcelorMittal, industri baja India), kurang memiliki program terpadu pada semi finish. Ketergantungan dengan bahan baku impor masih tinggi," kata Fazwar.

Padahal dari sisi konsumsi, pada akhir tahun 2008 nanti terjadi peningkatan konsumsi baja sebanyak 10 juta ton, atau naik dibanding konsumsi tahun 2007 sebanyak 7 juta ton. "Sementara, impor baja masih sangat tinggi, dibanding produksi" katanya.

Mengutip BPS, selama Januari-Juni 2008, impor baja nasional melonjak sekitar 30 persen dari 4,54 juta ton pada periode sama tahun lalu menjadi 5,88 juta ton dengan total nilai 4,33 miliar dolar AS.

Volume produksi baja domestik yang hanya sekitar 2 juta tonstagnan dibandingkan dengan periode sama tahun lalu pada akhirnya menciptakan jurang kesenjangan yang semakin lebar terhadap konsumsi sehingga memicu impor besar-besaran.

Irvan Kamal Hakim, wakil ketua IISIA, menjelaskan jika impor ilegal terjadi akibat tidak bayar bea masuk (BM). Dari beberapa tempat, importir memanfaatkan celah aturan antidumping. Jika hal ini dibiarkan, menurut Irvan, hal itu akan mengganggu pasar baja di dalam negeri.

"Banyak industri yang kolaps karena ketergantungandengan impor baja sangat tinggi. Karenannya, lewat USIA ini kita berusaha mencari solusi bersama," tutur Irvan, yang juga direktur Pemasaran PT KS (Persero) ini.

Menurut Fazwar, ketergantungan tersebut lambat laun harus dikurangi dengan mengkonsumsi baja nasional yang semakin kompetitif. Caranya, pemerintah ikut mendorong industri manufaktur menggunakan bahan baku lokal, di samping juga meningkatkan pembangunan infrastruktur agar konsumsi baja nasional bisa semakin meningkat.

Saat ini, katanya, konsumsi baja di Indonesia masih 30 kilogram per kapita per tahun. Jumlah tersebut berbeda jauh dengan konsumsi baja di Cina yang mencapai lebih 300 kilogram per kapita per tahun, meski sekitar 60-70 persen di antaranya digunakan untuk infrastruktur.

(Sumber: Republika)

 Dilihat : 3571 kali