02 September 2008
Komitmen Investasi Sektor Baja Hulu US$4 miliar

JAKARTA - Total komitmen investasi di industri baja sejak tahun lalu hingga Juli 2008 tercatat sekitar US$4 miliar. Penanaman modal tersebut dilakukan dalam bentuk pembangunan pabrik baja terintegrasi (integrated steel industry).

Investasi oleh perusahaan lokal dan asing tersebut diharapkan akan memperkuat struktur industri hulu baja nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.

Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan perusahaan baja di dalam negeri gagal memanfaatkan secara optimal pertumbuhan pasar baja di sektor hulu (upstream) selama satu dasawarsa terakhir, padahal sumber bijih besi di Indonesia sangat berlimpah.

Pemerintah, katanya, terus mengarahkan calon pemodal agar mengoptimalkan investasinya di sektor iron making yang menghasilkan produk seperti pellet, besi spons/pig iron untuk membuat slab (untuk baja lembaran seperti HRC/baja canai panas, CRC/baja canai dingin, pelat), billet (untuk kawat baja dan long product a.l.pipa, besi beton/profil).

Perusahaan-perusahaan baja yang berniat menanamkan modalnya yakni Essar Steel Co Ltd (India) yang akan membangun pabrik pengolahan bijih besi di Kalsel dan Kalteng berkapasitas 1 juta ton per tahun dengan total investasi US$1 miliar.

Sementara itu, Nanjing and Iron Steel Co Ltd (China) akan merampungkan pembangunan pabrik pengolahan bijih besi US$500 juta di Kalsel dan China Nickel Resources Holdings Co (PT Mandan Steel) berinvestasi US$1 miliar secara bertahap selama lima tahun untuk membangun pabrik baja berlapis nikel di Kalsel berkapasitas 1 juta ton.

Selain itu, Ispat Indo (perusahaan afiliasi ArcelorMittal) diam-diam tengah mencari lahan di sekitar Banten dan Lampung untuk merealisasikan rencana pembangunan pabrik slab/billet senilai US$600juta.

Adapun PT Krakatau Steel (Persero)-BUMN baja nasional tengah merampungkan proyek pabrik pengolahan bijih besi berkapasitas 300.000 ton senilai US$60 juta. Perusahaan baja terbesar di Indonesia ini juga menganggarkan dana US$600 juta untuk membangun pabrik billet 1 juta ton per tahun pada 2009.

Menurut Ansari, kinerja industri baja nasional saat ini lebih bertumpu pada sektor flat product (kelompok baja lembaran). Sayangnya, volume produksinya cenderung stagnan dibandingkan dengan konsumsi yang terus naik.

Ansari menambahkan selain itu, ada satu perusahaan patungan antara investor Singapura dan swasta nasional [PT Growth Sumatra Industry Ltd] yakni PT Indo Ferro yang juga berminat membangun pabrik besi spons (pig iron) berkapasitas 500.000 ton di kawasan Cilegon pada pertengahan 2008.

(Sumber: Bisnis Indonesia)

 Dilihat : 3192 kali